Ternyata, Masih Ada Harapan dan Impian
Oleh: Muna el Laily
Aku orang yang punya impian menuntut ilmu hingga ke luar negeri, aku orang biasa, tidak pintar, tapi aku mempunyai banyak kemampuan. Itu kata teman-temanku. Aku seorang sastrawan yang masih dalam proses, karya-karyaku sering ada di media. Hanya satu yang tak mampu kupunya, yaitu membaca kitab dengan maknanya, padahal aku jurusannya bahasa dan sastra Arab. Atomatis aku dituntut bisa membaca kitab kuning, lagi-lagi aku gagal. Aku pernah mencoba mengikuti lomba baca kitab, juara tak jadi milikku. Akhirnya aku menggerutu dalam hati bahwa masih ada orang yang lebih pintar. Aku tak kuasa menahan emosi, telingaku panas, akhirnya aku terus menerus belajar Nahwu dan Sharaf pada sekawanan yang kuanggap mampu dalam bidang ilmu nahwu dan Sharaf. Meski proses demi proses aku jalani, ilmu itu tak jua melekat dalam hatiku. Tapi tak apalah aku mengalami kegagalan, Dalam buku Zero to Hero dijelaskan karangan Solikhin Abu Izzuddin terbitan pro-U. Sebenarnya orang yang takut melangkah karena takut salah dialah yang gagal.. Akhirnya aku menekuni dunia jurnalistik dengan rubrik sastra. Disitulah khasku bisa disalurkan. Impianku, ingin mengembangkan ilmu dengan metode idealis yaitu menyampaikan ilmu lewat karya-karya dan menjadi duta penerjemah.
Hari ini, aku sudah semester tujuh, aku mensugesti hatiku dengan tekad S2 ke luar negeri atau Arab Saudi yang kuimpikan, agar Bahasa Arabku bisa berkembang. Aku anak dari orang tua yang ekonominya dibawah standart, bapakku adalah seorang sales rokok yang hasil uangnya dipakai untuk bayar SPP kuliahku. Matahari yang terik dan jalan-jalan sesak penuh asap polusi memakan badannya yang semakin membuatnya sakit berkepanjangan. Ibuku adalah seorang penjual gorengan di sekolahan SD. Itupun masih kurang untuk biaya makan keluargaku. Cita-citaku membahagiakan orang tuaku kelak dengan kesuksesan yang kucari. Untuk ayah dan bunda, aku minta restumu lewat suara tulisanku. Mudah-mudahan aku disukseskan dalam segala hal.
Tiap kali aku pulang kampung, aku selalu terlibat dalam perbincangan sederhana, rumahku tidak mewah, hanya berlandaskan gubuk yang sudah reot. Bapakku sangat konsisten menanyakan hal-hal baru selama aku merantau ke negeri orang demi menuntut ilmu. Lalu kuceritakan kehidupanku lewat tulisan hingga kesulitan menangkap sebuah kajian sederhana dari ilmu-ilmu yang kucari. Aku menyembunyikan penderitaanku selama merantau ilmu, mulai dari kesusahan makan, menelan ludah akibat sudah kelaparan. Aku hanya tersenyum saja pada orang tuaku bahwa aku baik-baik saja. Karna aku tak mau membebani mereka tapi aku masih sering membebani.
Pernah suatu ketika waktu aku menginjak SMA, aku adalah anak pesantren, tiap minggu aku dikirim, tapi hanya sebuah makanan jagung yang dimekarkan dari api-api rerongsokan untuk mempersamakan aku dengan teman-teman. Aku mensyukurinya, Aku melihat peluh ibuku berderaian. Aku tak tega melihatnya dan aku pun berikrar. “ibuku, mudah-mudahan ilmu yang ku dapat lebih banyak dari deraian peluhmu”. Ibuku menangis kala itu, akupun menangis jua. Hingga sampai detik ini aku menginjakkan kaki di jogja. Aku mengenal filosofi dari sikap ibuku. Di tiap pertengahan malam, disaat semua orang lelap ibuku berdoa. “Semoga ilmu yang ku dapat bermanfaat untuk bekal kelak di akhirat dan sangu di dunia yang saat ini kupijakkan”. Rasanya sangat indah sekali mempunyai orang tua yang semangat menuntunku untuk menuntut ilmu. Dan aku tak henti-hentinya bersyukur.
Detik semesteran, uangku sekarat. Aku dibimbangkan dengan banyak persoalan. Hingga pada akhir pendafataran aku belum juga menemukan pinjaman uang. Sedangkan orang tuaku di rumah juga mencari ke sana kemari dan bapakku sedang dirawat di rumah sakit, sakitnya komplikasi, mungkin bapak sangat kecapean tiap hari bekerja menghirup angin. Karna pekerjaan seorang sales memang membutuhkan tenaga yang cukup untuk berkeliling mencari pelanggan rokok. Aku lemah saat itu, tak mungkin aku membebankan orang tuaku dengan merengek agar SPPku segera dilunasi. Aku sudah berfikir cuti. Tak ada biaya untuk dibayarkan. Aku coba menghubungi seluruh sekawananku, tak ada yang membantu. Bukan mereka tak mau membantu hanya saja ia juga butuh untuk pembayaran. Akhirnya aku berdoa di lobi kampus sambil berdoa dan menangis kepada tuhan agar aku diberi kesabaran dan ketabahan menghadapi semuanya. Aku yakin, pasti tuhan menolongku. Akhirnya, aku menghubungi salah satu dosenku yang mengerti dengan keadaan ekonomiku. Dia akhirnya membantu separo dari apa yang harus dibayar, separonya lagi aku pinjam sama teman-temanku.
Pasca pembayaran SPP, aku harus berfikir lagi bagaimana cara melunasi hutang-hutangku. Akupun sudah ditagi-tagih sama teman-teman agar segera melunasinya. Jika aku tak melunasi hutang detik itu, dia tak akan lagi menganggapku teman. Beda dengan dosenku, dia memberiku keringanan, “kapan saja aku mau, jika ada uang. Tak apa kau bayar”. Begitu katanya, aku merasa lega karena bebanku tambah berkurang. “Aku kadang berfikir lucu dengan kehidupan, kenapa kadang ia kejam menarikku kesana-kemari, mulut berbusa dengan basa-basi dan mengisi pertengkaran edan yang tanpa persoalan”. Mengutip puisi WS. Rendra. aku senang mendengarkan sajaknya untuk sekadar menenangkan pikiranku dari segelumitnya persoalan.
Dari persoalan hutang hingga tak makan, tak ada uang untuk biaya hidup. Ditagih teman hingga mau memusuhiku, nestapa hati ini. Andai aku anak pejabat tinggi yang kerjanya hanya mondar-mandir sudah dapat uang, tapi jika kupikir, anak pejabat hanyalah pengusaha memakan rakyat miskin seperti aku. Mending aku jadi orang biasa saja menikmati kehidupan. Sedih, tawa, canda aku nikmati karna aku hidup di dunia ini hanyalah titipan. Sebenarnya aku tak miskin karena aku masih punya ilmu. Orang miskin yang sebenarnya adalah orang-orang yang tak mau berjuang dengan kemiskinannya untuk mencapai hakikat dan kepentingan jiwa.
Nabi Yusuf menderita sewaktu ia hidup, ia dimusuhi saudaranya hingga ia dicebur ke dalam sumur yang sangat dalam. Sangatlah tidak etis bagi Yusuf jika ia di istimewakan oleh tuhan, karna tuhan memanggilnya untuk menjadi pemimpin kerajaan. Ketika Nabi Ya’kub dengan si Nabi Yusuf berbincang-bincang bahwa baru saja ia bermimpi bintang-bintang yang berkilau menyembah dirinya. Perbincangan itu didengar oleh ibunya dan akhirnya diberitahukan pada saudara tirinya. Namanya Rubil, Rubilpun bersikeras ingin membunuh Yusuf dengan cara menceburkan Yusuf ke dalam sumur.
Suatu ketika, Nabi Ya’kub duduk-duduk santai di rumahnya, Rubil meminta izin pada nabi Ya’kub bahwa ia ingin sekali mengajak Nabi Yusuf berburu. Beliaupun mengizinkannya, ketika sudah sampai di hutan, Rubil melihat ada sumur dan ia berhasil menangkap Yusuf untuk di cebur ke sumur. Yusuf coba berusaha meminta tolong hingga menjerit-jerit tak ada satu orang pun yang menolongnya. Saudara-saudaranyapun tak menghiraukannya dan meningglkan Yusuf. Mereka pun pulang ke rumahnya dengan tidak membawa Yusuf. Nabi Ya’kub menanyakan “dimana anakku, Yusuf?”. Dengan tidak berdosanya, saudara-saudara Yusuf mengatakan bahwa Yusuf dimakan singa saat berburu tadi.
Nabi Yusuf berusaha ingin keluar dari dalam sumur itu, keinginannya untuk keluar dari sumur sangat ia dambakan. Ia meminta pertolongan tuhan agar segera dikeluarkan dari penderitaannya. Tapi nabi Yusuf cukup menikmati kesengsaraan itu, akhirnya suatu ketika tuhan mendatangkan seseorang yang sangat kehausan untuk mengisi tenggorokannya yang kering. Dia pun pergi ke sumur tempat Nabi Yusuf singgah, ketika ia menarik benda yang hendak ia tarik ke atas, tiba-tiba Nabi Yusuflah yang ketarik pada benda itu. Alangkah terkejutnya orang itu, saat melihat seorang ke angkut dari dalam sumur. Nabi Yusufpun dibawa ke istan kerajaan, dan menjadi raja disitu.
Sebelum ia menjabat sebagai raja, ia menghadapi segala cobaan yang cukup besar. Ia digoda para cewek-cewek karna terkagum-kagum dengan pesona ketampanannya. Namanya begitu familiar kita dengar yaitu Zulaikha. Ketika Zulaikha mencoba merayu dan menggoda Nabi Yusuf yang bukan muhrimnya, Nabi Yusufpun berusaha menghindari rayuan maut perempuan itu. hingga pada saat ia mencoba kabur, Zulaikha menarik baju belakangnya hingga bajunya Nabi Yusuf sobek. Semua orang tertegun, dan menyangka nabi Yusuf tengah merayu istrinya raja. Zulaikha pun menyalahi Yusuf. Pada akhirnya tuhan mendatangkan seorang bayi mungil yang baru lahir mengatakan bahwa bukan Yusuflah yang berusaha merayu tapi Zulaikha. Semua orang terkejut melihat pengakuan bayi mungil yang sudah bisa bicara.
Dari keajaiban yang diberikan tuhan untuk Nabi Yusuf, akupun juga meyakini, bahwa tuhan melihat usaha dan do’aku. Tiap doa kupanjatkan, aku ingin membuat orang tuaku bahagia dengan ilmu yang kupunya. Untuk bulan ini, tak mungkin minta kiriman orang tua, karna kondisi ekonomi orang tuaku saat ini sangat menyekek keluargaku. Masih ditambah dengan biaya inap bapakku. Akupun mencari informasi di kampus-kampus, barangkali ada lomba menulis karya lainnya, dan aku melihat info meresensi buku, tapi lagi-lagi aku selalu gagal.
Uang yang dijanjikan pada temanku tak jua aku kembalikan, pikirku, dengan aku menulis, maka aku akan mendapat uang dan bisa melunasi semua hutang-hutangku, agar ilmuku juga tersalurkan dan bermanfaat bagi semua orang dengan cara menulis. Aku melihat brosur di papan pengumuman bahwa ada penyaluran bakat anak Indonesia melalui karyanya yang diadakan oleh Bali Literary Award. Aku mengikuti lomba karya tulis cerpen itu, tapi lagi-lagi aku gagal. Sudah beberapa lomba aku ikuti, semuanya gagal. Aku terus tidak patah arang, Aku mencari informasi tentang kerjaan, barangkali aku bisa diterima dengan kerja menjadi penjaga toko buku. Dan aku pun diterima bekerja di situ tapi gaji kerjaku tidak sebanding dengan hutang-hutangku dan biaya inap bapakku.
Namun, ketika semua akan berakhir, semua yang ada berawal dari sebuah penderitaan. Aku ditawarkan menjadi seorang pengajar tetap di sebuah lembaga dan gajianku lumayan untuk sekadar makan. Tuhan mendengar doaku, ia tak pernah tidur untuk melihat ciptaannya berdoa. Bulan dan jalan setapak senjaku akhirnya terang yang berihwal dengan dengan ketidak validan dan kelam. Dengan begini aku bisa menikmati ilmu yang kupunya selama memperjuangkannya bertahun-tahun dengan rasa yang cukup nelangsa. Tapi perjalananku mencari ilmu tidak hanya sampai di sini, dengan diterimanya aku sebagai pengajar tetap. Itu artinya aku masih punya peluang untuk melanjutkan S2 ke luar Negeri.

Kisah ini untuk diikutsertakan dalam Lomba Kisah Menggugah Pro-U Media 2010 di http://proumedia.blogspot.com/2010/10/lomba-kisah-pendek-menggugah-pro-u.html