Muna el Laily
Kecupan Berduri
kecupan bukanlah birahi
bukan pula petikan gitar yang hendak dimainkan
melainkan angin yang menyusuri malam
meminta restu dan kehalalan Tuhan
juga keindahan sorga yang Ia janjikan
tangisan menari-nari diatas pipi
saat kecupan berupa duri
yang tak direstui
pun bubur menjadi nasi
luka terasa abadi
Sapen, 24 Februari 2010
Peri Bulan
peri itu datang
pada sepi di lorong bulan
dia sering mendendangkan rindu
pada malam petang
aku pun terjaga
dengan rindu yang ia pinta
pandangku ke langit
barangkali bulan dan bintang masih bersenggama kata
hari menjelang remang
aku rindu pada peri bulan
yang sering menyanyikan lagu kerinduan
menyaksikan bukit bintang
kembang api yang sering kita nikmati
juga keturunan dari perkawinan jari-jari
saat itu jiwa kita menyatu
dibawah bulan diatas perdu
Malam, 26 Februari 2010
Cinta pada Rindu
jarak dan waktu
menghabiskan energi rindu
lalu menghilang suram
diatas tumpukan batu
mengejar cinta
separuh air dalam gelas
terlihat wajahmu
separuhnya lagi berupa rindu
bening sehening matamu
linangan air mata rindu
bersuara memimpikan irama dalam dada
perih mengalun dzikir kusebut namanya
Malam, 04 Maret 2010
Kado Mutiara Untuk Permata
Ku sebut kau dengan permata
Karena mengisahkan seorang putri dengan raja
Tak ada satu pun yang bisa menyangkalnya
Bahwa engkau menaburi benih-benih dalam bungkusan mutiara
Kupegang erat bingkisan mutiara itu
Hingga degup jantungku membeku
Menggubah batu menjadi mentega
Gunug-gunung pun menyaksikan kisah cinta itu
Aku hanya ingin, kisah ini tidak sebesar gunung
Tapi sehitam kuku hingga menempati istana yang kita rajut dulu
Ya,, itu hanya sebatas tarajjiku
Jum’at, 11 desember 2009
Mawar Jadi Duri
Aku menyimpan seribu tangisan
Saat engkau bisikkan cahaya pada bunga-bunga
Yang mulai kelam
Dulu, engakau beri mawar yang harum nan mekar
Mawar itu hanyut dalam merah jambu
Susunan piramid menyulam hati yang rindu
Kemudian menjadi duri
Engkau telah mengakhiri kisah seorang bidadari
Yang mulai disunting para malaikat insani
Gelisah, itu resahku
Apa aku benci atau rindu?
Risalah tentang makna hati tak aku pahami
Hingga dada mulai tersendat-sendat
Untuk sekadar bernafas
Udara tak bersahabat lagi dengan cuaca malam ini
Aku lunglai tak berdaya
Malam, 12-12-2009
(Ilmu Semantik)
قد حدّثوا عن شا عر نابغ مجوّد الشّعر شريف المقال
ثم يعشق الغيد لكنّه هام ببكر من بنات الخيال
صورة حسن صا عها لبّه وحدها فى الحسن حدّالكمال
فصار كالطفل رأى بارقا هاج له أطماعه فى المحال
يمدد نحوالنجم كفاله ويحسب النجم قريبب المنال
فأينما سار تراءت له كما ترى خادعا لمع أل
فسار يقفوإثراها ئما والمهتدي با لوهم جم الضلال
وهم ان يمسكها جاهدا بين درايمه بأ يد عجال
ما زال يصدّ وجهده نحوها حتى هوى من فوق تلك التلال
فر حمة الله على شاعر مات قتيلا للأ مانى الطوالب
Paragraf satu, dua dan tiga termasuk kalimat kabari dan menggunakan majaz isti’arah karena dalam paragraf itu mengisahkan tentang seoarang penyair yang menggebu-gebu dengan angan-angannya untuk menjadi seorang penyair yang handal, hingga ia akan menikahi seoarng perawan, akan tetapi perawan yang ia maksud bukan manusia melainkan banatul khayal yaitu dunia imajinasi yang disebut dengan puisi. Bukan pula seorang wanita yang cantik, tapi puisi yang bisa mengantarkan jiwanya dalam keindahan yang menyentuh kehidupannya. Kemudian punulis mempunyai asumsi terhadap pemaknaan syair di atas, bahwa cinta bisa menggubah duri menjadi mawar, seluruh manusia membutuh cinta, karena ia ada tanpa di undang, indah saat mengenang layaknya orang gila yang mulai gandrung akan kecintaan terhadap yang discintai.
Kemudian cerita diatas diperkuat dengan tasqisy (personifikasinya). Pada paragraf empat, lima, enam, tujuh menyatakatan seorang penyair seperti anak-anak yang mulai asyik dengan mainannya layaknya baru melihat dunia, hingga ia mengira bahwa bintang mudah digapai seperti cita-cita yang ukir sejak masa kanak-kanak dan berusaha menggapainya dengan sungguh-sungguh dalam waktu yang singkat, dan ia tak pernah sadar bahwa hidup hanyalah fatamorgana seperti air yang menjadi kebutuhan manusia.
Akan tetapi, paragraf delapan, sembilan, sepuluh kisah itu berbalik arah, seorang penyair itu mati tanpa menggapai angan-angan menjadi seorang penyair. Sungguh sangat tragis kisah ini, ia hanya tertipu dunia, yang ada hanyalah hayalan belaka dan hanya digerakkan oleh obsesinya untuk menjadi orang hebat serta keinginan yang menderu-deru, padahal ia pun sangat mengagungkan cita-cita itu tanpa lelah. Sayangnya, cita-cita itu hanya digantung dalam kematian yang tak dinyana.
Pesan penulis dalam kisah ini, yaitu gantunglah cita-citamu setinggi langit, apalagi cita-cita menjadi seoarng penyair, karena penyair adalah idolanya semua orang. Kenapa demikian?karena makna alam semesta ini sangat indah apabila dikontraskan dengan keadaan hidup seseorang. Seorang penyair mampu menggubah dunia dengan senyuman tanpa tantangan meski rintangan selalu menghadang. Begitulah kataku…
Tulisan ini terinspirasi dari salah satu dosenku yang aku idolakan, karena ia sering menyebut-nyebut namaku ketika dalam kelas, Jadi familiar dikit namaku. Dan juga dari seseorang yang ingin mempelajari keindahan ilmu padaku, hingga obsesi menjadi seorang ilmuan ia tekuni dengan berbagai macam cara, aku sangat salut padanya. Dan aku ingin meniru obsesinya itu, dia ingin belajar padaku tentang keindahan ilmu tapi aku juga ingin belajar padanya karena ilmuku masih belum sepadan dengan kemampuan yang kupunya.
KEHIDUPAN
ketika aku duduk menjelang mendung
hari-hariku kulalui berasama kawan sambil bercengkrama
sejenak aku berhenti menikmati kekesalan dan kelelahan
melukis alam lalu mendengung
menjaganya!wahai penjaga pintu
baik dan buruknya alam semesta
tak peduli ketakjuban
mengawasi pemandangan ditepi pantai
betapa bodohnya hal-hal yang tak kuketahui
dari misteri malam dan teka-teki siang
pentas berlangsung dengan baik
cerita panjang dibalik tirai layar
aku lelah dengan dunia rahasia
pada diamnya kerikil
yang mendendangkan indahnya cahaya
ada petunjuk kesal disana
memejamkan mata karena takut
mengharap karunia akan jatuh pada malam itu
dengan histeris ia berteriak seakan-akan membuatku terjaga
engkau lemah dalam kebencian
tak tersisa pada masa kecuali perih
pada setiap yang aku pandang, ada sinar
mengejek api dan menggulung debu
setiap yang aku pandang, ada kekuatan
menggema pada angin kemudian berderu
mencabik-cabik keputus asaan
menatap kasat mata dengan abadinya alam semesta
lihatlah aneka keindahan dunia
memancar dari langit dan bumi
ingatkah engkau pada gugusan-gugusan?
tanpa peduli peringatan kehancuran
dalam rentang waktu antara anak kecil dan remaja
yang memperindahnya dengan seksama
sementara pandangan mengarah pada penumpang
dan ucapannya menakjubkan kudengar
ketika aku meloncat kesampingnya
menjulurkan tangan tanpa peduli perlindungan
berjalan bergandengan
bersama angin membelai tangan sang kekasih
lihatlah pada kendaraan layaknya pejalan
melaju cepat tak peduli pada desakan
seperti roda yang diciptakan manusia
adakah suatu kematian yang menggetarkan
lihatlah pada kekuatan tubuh
pedang ulul azmi untuk berjuang
berjalan menjelang malam
seorang laki-laki yang terbiasa sejak tadi pagi
aku menjawab, wahai dunia siapa gerangan?
aku kesal dengan penipuan
mencabik-cabik kehidupanku dua tahun lalu
aku merobek-robek topengmu
keindahan itu menari sangat memesona
dan kecelakaan bermuara pada kecerahan
masa yang sia-aia karena perbuatan jahat
celupan menutupi dosa-dosa yang bertahun-tahun
kendaraan ini sombong layaknya menyambar kilat
dia menyala lalu lenyap bagian sepertengah harinya
istirahat sambil mengumpulkan tenaga
dinginnya malam mulai menyentuh tubuh dengan sengit
bagaimana aku tak menangis dengan kefakiran
yang berangan-angan tinggi pada sebungkus roti
betapa agungnya jihad tanda diatas dahi
ya tuhan, apa yang tersisa pada hambaku
apakah ini semua demi kehidupan!
demi bekal makanan mengisi relung hati ratapan
berapa bintang yang menegejek kita diatas
dan berapa anak-anak yang allah lihat!
wahai tuhan yang maha pengampun
kami anak kecil merayap didunia dengan tak sempurna
hidup di bumi ini sejak zaman azali
pelajaran kami hanya bertumpu diatas kuburan
جلستُ يوماً حين حلَّ المساءْ وقد مضى يومي بلا مؤنسِ
أريح أقداماً وهتْ من عياءْ وأرقب العالَم من مجلسي!
***
أرقبه! يا كَدّ هذا الرقيب في طيب الكون وفي باطلهْ
وما يبالي ذا الخضم العجيبْ بناظر يرقب في ساحلهْ
***
سيان ما أجهل أو أعلم من غامض الليل ولغز النهارْ
سيستمر المسرح الأعظم روايةً طالت وأين الستار
***
عييتُ بالدنيا وأسرارها وما احتيالي في صموت الرمالْ!
أنشد في رائع أنوارها رشداً فما أغنم إلا الضلالْ !
***
أغمضت عيني دونها خائفاً مبتغياً لي رحمة في الظلامْ
فصاح بي صائحها هاتفاً كأنما يوقظني من منامْ:
***
أنت امرؤٌ ترزح تحت الضنى لم يبق منك الدهر إلا عنادْ!
وكل ما تبصره من سنا يهزأ بالجذوة خلف الرمادْ!
***
وكل ما تبصره من قوى تدوي دويّ الريح عند الهبوبْ
يسخر من مبتئس قد ثوى يرنو إلى الدنيا بعين الغروبْ!
***
انظر إلى شتى معاني الجمالْ منبثة في الأرض أو في السماءْ
ألا ترى في كل هذا الجلال غير نذيرٍ طالعٍ بالفناءْ!
***
كم غادة بين الصبا والشبابْ تأنقّ الصانع في صنعها
تخطر والأنظار تحدو الركاب ولفظة الاعجاب في سمعها!
***
وربما سار إلى جنبها مدّله ليس يبالي الرقيبْ
يمشي شديد العجب في قربها إذا راح يوليها ذراع الحبيبْ!
***
وانظر إلى سيارة كالأجل تخطف خطفاً لا تُبالي الزحامْ
هذا الردى الجاري اختراع الرجلْ هل بعد صنع الموت شيءٌ يُرامْ!
***
وانظر إلى هذا القويّ الجسدْ الباتر العزم الشديد الكفاحْ!
قد أقبل الليل فحيّ الجلد في رجل يدأب منذ الصباحْ
***
أجبت: يا دنياي من تخدعين؟ إني امرؤٌ ضاق بهذا الخداعْ
مزّقتِ عن عيشي . هنيّ السنين لأنني مزقتُ عنكِ القناعْ !
***
إن الجمالَ الساحرَ الفاتنا يا ويحه حين تغير الغضونْ
ويعبثُ الدهر بحلو الجنى وتستر الصبغة إثم السنينْ!
***
وهذه السيارة العاتيهْ وربما الجبار كالبرق سارْ
ما هي إلا شُعَلٌ فانيهْ نصيبها مثل شعاع النهارْ!
***
وارحمتاه للقويِّ الصبورْ يقضي الليالي في كفاحٍ سخيفْ
وكيف لا أبكي لكدح الفقيرْ أقصى مناه أن ينال الرغيفْ!
***
كم صحتُ إذا أبصرت هذا الجهادْ وميسم الذلة فوق الجباهْ
يا حسرتا ماذا يلاقي العبادْ أكُلُّ هذا في سبيل الحياهْ؟!
***
وفي سبيل الزاد والمأكل نملأ صدر الأرض إعوالا
كم يسخر النجمُ بنا مِن عل وكم يرانا الله أطفالا!
***
يا ربِّ غفرانك إنا صِغارْ ندبّ في الدنيا دبيبَ الغرورْ
نسحب في الأرض ذيولَ الصغارْ والشيبُ تأديبٌ لنا والقبورْ!
(إبراهيم ناجى)
رقم القصيدة : 63507 نوع القصيدة : فصحى ملف صوتي: لا يوجد
رُبَّ ليلٍ قد صفا الأفق بهِ وبما قد أبدعَ اللهُ ازدهرْ
وسرى فيه نسيمُ عَبِقٌ فكان الليلَ بُسْتَانٌ عَطِرْ
قلتُ يا رب لمن جمَّلته ولمن هذي الثريات الغررْ..؟
فعرا الأفقَ قَتامٌ وبَدَتْ سحبٌ تحبو إلى وجهِ القمرْ
كلما تقرب تمتد لهُ كأكفٍّ شرهاتٍ تنتظر
صحت بالبدر: تنبَّهْ للنذرْ ادركِ الهالةَ حفت بالخطرْ
لا تبحْ مائدة النور لهم لا تبحْها لسوادٍ معتكرْ
قهقه الرعدُ ودوَّى ساخراً فكأنَّ الرعدَ عربيدٌ سكرْ
قمتُ مذعوراً وهمت قبضتي ... ثم مدت، ثم ردت من خَوَرْ
لهف القلب على الحسن إذا قهقه الغربانُ والذِّئبُ سخرْ
تحتمي الوردةُ بالشوكِ فإن كثر القطافُ لم تغنِ الابرْ
آهِ من غصنٍ غنيٍّ بالجنى ومِن الطامع في ذاك التمرْ
آه من شك ومن حب ومن هاجساتٍ وظنونٍ وحذرْ
كست الأفقَ سواداً لم يكن غيرَ غيمٍ جاثمٍ فوق الفكرْ
طالما قلت لقلبي كلما أنَّ في جنبي أنينَ المحتضرْ
إن تكن خانتْ وعقَّت حبَّنا فأضِفْها للجراحاتِ الأخرْ
(إبراهيم ناجى)
رقم القصيدة : 63507 نوع القصيدة : فصحى ملف صوتي: لا يوجد
رُبَّ ليلٍ قد صفا الأفق بهِ وبما قد أبدعَ اللهُ ازدهرْ
وسرى فيه نسيمُ عَبِقٌ فكان الليلَ بُسْتَانٌ عَطِرْ
قلتُ يا رب لمن جمَّلته ولمن هذي الثريات الغررْ..؟
فعرا الأفقَ قَتامٌ وبَدَتْ سحبٌ تحبو إلى وجهِ القمرْ
كلما تقرب تمتد لهُ كأكفٍّ شرهاتٍ تنتظر
صحت بالبدر: تنبَّهْ للنذرْ ادركِ الهالةَ حفت بالخطرْ
لا تبحْ مائدة النور لهم لا تبحْها لسوادٍ معتكرْ
قهقه الرعدُ ودوَّى ساخراً فكأنَّ الرعدَ عربيدٌ سكرْ
قمتُ مذعوراً وهمت قبضتي ... ثم مدت، ثم ردت من خَوَرْ
لهف القلب على الحسن إذا قهقه الغربانُ والذِّئبُ سخرْ
تحتمي الوردةُ بالشوكِ فإن كثر القطافُ لم تغنِ الابرْ
آهِ من غصنٍ غنيٍّ بالجنى ومِن الطامع في ذاك التمرْ
آه من شك ومن حب ومن هاجساتٍ وظنونٍ وحذرْ
كست الأفقَ سواداً لم يكن غيرَ غيمٍ جاثمٍ فوق الفكرْ
طالما قلت لقلبي كلما أنَّ في جنبي أنينَ المحتضرْ
إن تكن خانتْ وعقَّت حبَّنا فأضِفْها للجراحاتِ الأخرْ
SEPI
Aku sendiri
Bermain dengan sepi
Bukan untuk menepi
Aku berlari ke pantai mengukir gambar
Seketika itu,
Gambarku hilang entah ditelan gelombang
Sepi,
Hanya aku dan sepi
Kemudian bunyi ombak yang terus bernyanyi
Aku penat suara sunyi
Aku benci
Sapen, 19 november 2008
TANGAN MENARI
Saat hari mulai sunyi
Burung-burung sudah tidak bernyanyi
Matahari tak lagi menemani
Terpaksa tangan menari untuk sesuap nasi
Miskin atau mati
Orang-orang tak pernah mau peduli
Pengemis,
Tuhan berucap
Al-yadhul ulya khairun min yadhissufla
Pemerintah bersikap acuh pada sabda
Hidup mewah rumah megah
Entah berjubah korupsi berhati besi
Membuat tangan menari
Sapen, 28 november 2008

