Oleh: Munadhiratul
Lailiyah
AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) atau syndrome
penurunan kekebalan tubuh adalah infeksi yang disebabkan oleh virus yang
disebut HIV (Human Immunodeficiency Virus). Penyakit HIV/AIDS merujuk
pada keadaan seseorang yang tidak lagi memiliki sistem kekebalan tubuh dan
kendornya stamina sehingga berbagai macam penyakit dapat menyerang dan sangat
sulit untuk disembuhkan. Hampir semua penderita AIDS berakhir dengan kematian,
karena hingga kini penyakit AIDS belum ada obatnya.
Dengan adanya memperingati Hari HIV/ Aids ini, masyarakat
diminta dan diingatkan agar selalu berhati-hati dalam menjaga lingkungan dan
menjaga kebersihan, sebab HIV/Aids bisa terjangkit ke siapa saja dan dimana
saja, dan penderita penyakit AIDS di Indonesia terus meningkat dari tahun ke
tahun. Keadan ini tentu sangat memprihatinkan. Sejauh yang penulis ketahui,
Pada awal tahun 2004 ada enam propinsi yang diprioritaskan berhubung tingginya
jumlah kasus HIV/AIDS, yaitu Jakarta, Papua, Bali, Jawa Timur, Jawa Barat dan
Riau. Kemudian pada akhir 2004 bertambah enam propinsi lagi yaitu Kalimantan
Barat, Sumatera Utara, Sulawesi Utara, Jawa Tengah, Yogyakarta dan Banten.
Beranjak dari hari inilah masyarakat Indonesia dianjurkan untuk
selalu waspada, tidak hanya pada hari HIV/Aids saja, melainkan tiada hari tanpa
waspada terhadap penyakit atau visrus yang mengelilingi disekitar kita.
Penyakit AIDS merupakan tahap akhir dari infeksi HIV. Namun, tidak semua orang
yang terinfeksi HIV akan mengalami gejala AIDS. AIDS dapat ditularkan lewat
hubungan seksual, persalinan dan menyusui, dan kontak darah dengan penderita. Adapun
gejala-gejala HIV/Aids sebagai berikut:
1. Gejala infeksi HIV/AIDS tahap awal
Sebagian besar orang yang terkena infeksi HIV tidak menyadari
adanya gejala infeksi HIV tahap awal. Karena, tidak ada gejala mencolok yang
tampak segera setelah terjadi infeksi awal, bahkan mungkin sampai
bertahun-tahun kemudian. Meskipun infeksi HIV tidak disertai gejala awal,
seseorang yang terinfeksi HIV akan membawa virus HIV dalam darahnya. Orang yang
terinfeksi tersebut akan sangat mudah menularkan virus HIV kepada orang lain,
terlepas dari apakah penderita tersebut kemudian terkena AIDS atau tidak. Untuk
menentukan apakah virus HIV ada di dalam tubuh seseorang adalah dengan tes HIV.
2. Gejala infeksi HIV/AIDS tahap menengah
Gejala infeksi HIV pada tahap menengah sudah lebih jelas, misalnya
flu yang berulang-ulang: lesu, demam, berkeringat, otot sakit, pembesaran
kelenjar limfe, batuk.
Gejala infeksi HIV lainnya yaitu infeksi mulut dan kulit yang
berulang-ulang, seperti sariawan, atau gejala-gejala dari infeksi umum lain
yang selalu kambuh karena penurunan kekebalan tubuh.
3. Gejala infeksi HIV/AIDS tahap akhir
Gejala infeksi HIV tahap akhir disebut juga gejala AIDS, yaitu
berat badan menurun dengan cepat, diare kronis, batuk, sesak nafas (infeksi
paru-paru, tuberculosis yang telah meluas), bintik-bintik atau bisul berwarna
merah muda atau ungu (kanker kulit yang disebut sarcoma kaposi), pusing-pusing,
bingung, infeksi otak.
Pada umumnya, Penyebab penyakit HIV/AIDS diawali oleh infeksi
virus HIV, yang menyerang system kekebalan tubuh sehingga sel-sel pertahanan
tubuh makin lama makin banyak yang rusak. Penderita infeksi HIV menjadi sangat
rentan terhadap semua bentuk infeksi. Pada tahap akhir, penderita tidak bisa
tahan terhadap kuman-kuman yang secara normal bisa dilawannya dengan mudah.
Infeksi HIV ditularkan melalui hubungan badan baik vagina, anus,
dan kontak dengan darah penderita HIV, seperti lewat jarum suntik, bayi yang
dilahirkan oleh ibu yang terinfeksi HIV, menerima transfusi darah yang
terinfeksi, serta transplantasi organ tubuh.
Apabila anda merasa telah terkena infeksi HIV segeralah periksa
ke dokter. Hindari tempat-tempat yang banyak serangan penyakit. Tidak melakukan
hubungan badan dan mencegah kehamilan, serta jangan menjadi donor darah,
sperma, ataupun organ tubuh.
Sebagai tambahan: infeksi HIV/AIDS tidak bisa ditularkan lewat
kontak sosial biasa seperti berjabat tangan dan berpelukan. Makanan atau
alat-alat makan. Toilet dan kolam renang. Gigitan nyamuk atau serangga lain
serta donor darah yang bebas virus HIV.
Mencegah penyakit HIV/AIDS relatif lebih mudah dibandingkan
dengan mengobatinya. Mencegah penyakit HIV/AIDS akan semakin penting artinya
berhubung penyakit ini belum ditemukan obatnya. Berikut ini beberapa cara
pencegahan penyakit HIV/AIDS:
1. Setialah dengan suami atau istri anda. Lakukan
hubungan seksual hanya dengan pasangan hidup anda (safe sex).
2. Menghindari seks bebas (free sex). Jangan
melakukan hubungan badan dengan pekerja seksual (PSK) atau berganti-ganti
pasangan.
3. Gunakan kondom secara benar dalam berhubungan
seksual, kecuali untuk pasangan-pasangan yang menginginkan bayi. Kondom bisa
menurunkan resiko infeksi tetapi tidak dapat mencegahnya secara total. Kondom
yang terbuat dari selaput (membrane) binatang terlalu tipis untuk dapat
melindungi.
4. Hindari penyalah-gunaan obat terlarang, narkoba dan
penggunaan jarum suntik bersama-sama.
5. Bila ingin akupunctur, tattoo, atau tindik telinga
pastikan bahwa alat-alat yang dipakai telah disterilkan.
6. Bila perlu operasi, sebaiknya minta transfuse darah autologous,
yaitu donor darah untuk nantinya dipakai sendiri
Kewaspadaan
umum untuk mencegah infeksi HIV/AIDS
Prinsip kewaspadaan dalam menghindari penyakit AIDS mutlak
diperlukan bagi mereka yang rentan terhadap penularan infeksi HIV. Prinsip ini
dikenal sebagai prinsip kewaspadaan umum (general precaution), yakni
pedoman tentang cara pengendalian infeksi untuk melindungi para pekerja medis,
pasien, maupun orang lain sehingga mereka terhindar dari berbagai penyakit yang
disebarkan melalui darah dan cairan tubuh tertentu.
Kewaspadaan
umum dalam mencegah infeksi HIV/AIDS meliputi:
1. Cara menangani dan membuang benda-benda tajam yang
dapat menimbulkan luka, sayatan atau tusukan. Termasuk dalam hal ini adalah
jarum, jarum hipodermik, pisau bedah, gunting, perangkat infus, gergaji,
pecahan kaca, dan lain-lain.
2. Membersihkan tangan dengan sabun dan air sebelum
maupun sesudah melakukan semua prosedur operasi.
3. Memakai alat pelindung seperti sarung tangan, jubah,
masker, dan kacamata pelindung bila terpaksa harus bersentuhan langsung dengan
darah dan cairan tubuh lainnya.
4. Melakukan pembersihan atau desinfeksi peralatan kerja
dan lain-lain yang terkontaminasi.
5. Penanganan tempat tidur, seprei kotor, lantai yang
terkena noda secara tepat.
Sekalipun prinsip kewaspadaan umum untuk mencegah HIV/AIDS ini
terutama ditujukan kepada para pekerja medis, tak ada salahnya bila kita semua
berhati-hati dan waspada untuk mencegah terjadinya luka yang disebabkan oleh
jarum, pisau, gunting dan peralatan tajam lainnya. Apalagi bila kita hidup
berdampingan dengan orang yang terkena infeksi HIV.
Akhirnya, menerapkan gaya hidup sehat dan setia pada pasangan
suami atau istri anda mungkin adalah cara paling sederhana yang bermanfaat agar
terhindar dari penyakit HIV/AIDS yang mematikan ini.