Misteri Suara Eropa
Oleh: Muna el Laily
Misteri itu mengetuk hatiku untuk mengatakan Eropa. Suara itu terus menggema mengikuti tiupan angin yang kencang, ruang kamar terpenuhi bahkan semakin jauh suara itu berlari hingga aku mengakui, itu adalah bunyi suaraku. Kucoba mencari arah suara itu, membingar seperti kelam. Suara itu semakin mencuat memaksa dan meminta respon agar aku menelanjangi otak-otak yang retak yang tak berfungsi. Menjulang semakin tinggi seperti gemerincik lonceng yang sedang dibunyikan Jibril kepada Nabi.
Aku lelah mencari bunyi itu. Tetapi suara itu semakin peduli menisbatkan lelucon misteri yang tak sanggup kumenelaahnya. Dunia buram ditertawakan tuhan. Tetes-tetes uang berimbun-rimbun tajam mencekik mimpiku, mimpi yang tak sanggup aku lontar. Tiba-tiba mencekam bumi meneriaki seluruh mimpi dan angan-angan padahal aku sudah tak peduli pada dogma yang diajarkan.
Hamba bingung terhadap sikap manusia yang terkadang meremehkan, mengguncing dan membicarakan hal-hal tak begitu penting dibincangkan, yang akhirnya bermuara pada pertengkaran tanpa persolan dan tujuan. Ingin sekali kujelajahi sunyi agar aku tak duduk dengan orang yang hanya mempunyai secuil pengetahuan, melihat bayangan ilmu hanya dalam mimpi lalu mengkhayalkan diri mereka dalam lingkaran yang benar.
Aku bicara pada sunyi tentang bayang-bayang orang yang menyeretku ke ruang sunyi untuk melafadzkan bahasa Eropa. Namun, sekilas orang itu menyimpang dari bayanganku. Haruskah aku mati bersama raksasa dan misteri-misteri yang tak kufahami? Apakah suara itu bermuasal dari pelosok dunia yang diutus menyampaikan surat-surat yang sarat pengetahuan Eropa? Adakah di sana bencana-bencana yang berhak aku mengitarinya? Perasaanku semakin berkecamuk. Ataukah suara itu akan membunuh jiwaku agar aku terkapar mengubur keindahan. Perasaanku semakin tak tentu dipenuhi dengan hal-hal yang negatif yang akan terjadi pada diriku.
Malam itu, nirwana membawaku menjelma orang Eropa. Bahasaku lancar menjadi berakar-akar seakan-akan aku lahir di tanah Eropa dan dilahirkan di sana. Bahasaku berbeda. Aku fashih menggunakan bahasa-bahasa Eropa. Seperti orang mengigau bahasa Prancis. Aneh memang kurasakan. Aku heran bukan kepalang. Siapa yang menuntunku mengeja lafadz-lafadz itu? Akankah bunyi itu ciptaan Ferdinand De Sausure yang menghasilkan tulisan. Ataukah ia tulisan yang membentuk semiotik bunyi yang terbahasakan atau ia teori pooh-pooh yang keluar dari insting manusia, yang tiba-tiba menjelma kemudian menghilang?.
Dering lonceng semakin keras menderu seperti para Nabi penerima wahyu. Seperti lubang gua yang tertutupi dengan sawang-sawang saat Nabi dikejar sang musuh. Tubuh Nabi bergetar, keringat-keringat berjatuhan. Suara datang entah dari mana? Aku menganalogikan suara itu adalah suara burung hud-hud yang datang kepada Sulaiman saat ia mau melakukan penyerangan terhadap pasukan Balqis. Ratu yang begitu cantik, kata seekor burung hud-hud, yang tak mungkin Sulaiman menyerang pasukan itu. Sulaiman berambisi menyerang dan saat melakukan penyerangan Sulaiman terbuai melihat betis sang ratu yang sangat mulus dan mungkin sangat menarik bagi laki-laki dan ingin mempersuntingnya. Cerita ini membuatku tahu, bahwa musuh manusia yang sangat buas adalah hawa nafsu.
Suara itu memerintah Nabi untuk membacanya.
“bacalah” itu adalah suaranya Jibril yang diutus menyampaikan wahyu
“ apa yang hendak aku baca” jawab Nabi.
“bacalah” Jibril mengulangi kalimat itu berturut-turut hingga tiga kali. Barulah Nabi membacanya dengan terbata-bata sambil membaca lafadz yang dituntun Jibril. Akankah suara yang datang kepadaku suaranya Jibril? Yang meluasi jagad menerjang pupil telinga.
Satu minggu berturut-turut aku seperti orang tak sadarkan diri. Tiba-tiba banyak vocabulary Prancis yang kutahu. Berbahasa Eropa. Terkadang aku ngobrol dengan kertas tak bernyawa, berbicara tentang segalanya. Menulis kemudian menghafal. Ketika aku mulai menulis dengan bahasa Eropa seketika suara keras membahana.
“ Jelajahi dunia dengan bahasa” suara itu berbunyi nyaris aku terdampar ke pelosok dunia akibat bahasa itu. Aku berusaha tak mempedulikan suara itu. Tapi ia terus menghantuiku.
“ Kenapa harus dengan bahasa? Dan kenapa engkau terus membuntutiku?” jawabku seperti orang gila berbicara dengan sendirinya.
“ Renungkan apa yang aku suarakan dan jangan terlalu banyak melamun”.
Dan seperti alam bawah sadar aku terbangun dari lamunanku. Angin malam semakin ganas meniupkan semilirnya ke seluruh badan.
Semuanya mimpi belaka. Otakku tak sepandai dalam dawai-dawai mimpi yang terkenang seperti mekarnya jagung saat panen. Sewaktu biji itu ditanam, ia seperti tak punya harga diri, dicumbui pitik-pitik, dimakan manusia kemudian dilempar ke lorong menjadi saluran dan menggesek hal-hal yang membusuk. Berjalan secara natural sesuai poros yang ditentukan. Dengan biji biji itu manusia bisa bertahan hidup dan menjadi makanan pokok sehari-harinya. Begitu pentingnya jagung yang kadang tak dihargai oleh manusia.
Tujuh hari tujuh malam tidurku terganggu dengan suara-suara itu. Suara yang membuatku punya penyakit insomnia. Ingin aku mengusirnya dari hidupku tapi suara itu sekeras batu bahkan memperbudak hatiku. Kucoba bertanya tentang suara itu pada sekawananku barangkali mereka bisa mengatasi dan mengusir suara itu dari kamarku. Kawanku tak percaya akan hal itu, mereka ngira aku hanya menggombal dan menakut-nakuti semata. Kuajak temanku untuk tidur dikamarku agar kami sama-sama mendengar suara itu. kupancing emosiku dan berteriak, tapi nihil suara itu tak jua datang. Kawanku akhirnya pulang dengan tak memberikan jawaban dan komentar apa-apa. Mungkin saja dia mengira aku sudah gila. Sudah kukumpulkan berbagai macam teori untuk mengusir hantu-hantu itu, hampir menumpuki buku-buku dan kertas-kertas di atas pintu. Suara itu semakin ganas kedengarannya bahkan bertambah ekstrim dari sebelumnya. Ternyata suara itu masih tetap ngotot menghantuiku.
Kamarku sudah tidak perawan lagi ditinggali suara-suara tadi. Ternyata suara itu beranak dan menggenapi angka-angka tunggal. Semua jenis apa dan segala siapa bahkan suara pun bisa beranak kecuali tuhan yang maha tunggal. Tak akan pernah ada tuhan anak, bapak dan bunda, yang ada hanya buat kaum yang mengada-ada. Negara yang kusinggahi negara plural. Segala bentuk jenis tunggal, bapak, bunda dan anak hidup dengan penuh toleran. Tak ada cacian juga ejek-ejekan. Hidup damai dengan bunyi suara yang berbeda. Aneh memang, jika suara itu menggabungkan kabel yang sudah mati dan memberikan energi pada suara-suara yang lain. Ingin aku menguak suara itu dari mana arahnya tapi tak jua kutemukan. Apakah suara itu sudah menjadi takdir atas hidupku? Bahwa aku akan memegahi Eropa dan menjelajahinya dengan dunia mayaku.
Terkadang suara-suara itu indah bagaikan melodi, kadang semrawut bikin pusing kepalaku, kadang menyeramkan membuat bulu kudukku merinding. Tidakkah aku harus melakukan terapi? Jika terus-terusan seperti ini , aku akan gila. Jangan-jangan, aku memang gila? Desis batinku yang sudah balau dengan perasaanku.
Aku datangi seorang ilmuan yang ahli dalam ilmu psikologi. Menurut teorinya, aku tidak gila, pun tidak sedang insomnia.
“ Ambisimu yang membuatmu seperti orang gila” kata seorang ahli psikologi itu dengan muka yang yes buat meyakinkanku bahwa aku tidak apa-apa. Aku lega dengan pernyataan itu. aku semakin penasaran sama suara apa saja yang datang padaku. Aku ingin mencarinya bahkan ingin menjadi ahli tafsir tentang suara.
Hari kedelapan suara itu pergi entah kemana? Bersama siapa? Dengan pasangannya atau sendirian? Aku sudah tidak pernah mendengarnya lagi. Rasa sepiku semakin merundung tak seperti waktu suara-suara itu menggangguku kemarin silam. Suara itu sudah tak ada lagi untukku. Tapi kenapa aku harus bingung? Bukankah aku harus bahagia karena sudah tak ada lagi yang mengusik kehidupanku. Rasa rindu semakin menyayat tubuhku, rindu yang begitu dalam hingga aku semakin tenggelam dengan bayang-bayang.
Air mataku bercucuran menggenangi pipiku. Tiba-tiba saja suara itu datang bersamaan dengan tangisku dan mengajakku ke suatu tempat yang sangat indah tentang prancis.
“ Siapa kau” dengan suaraku agak serak.
“ Aku adalah suara dari suara yang engkau rindu” jawabnya.
“ Mau dibawa kemana aku” tanyaku masih bingung.
“ Jalanlah bersamaku, ikuti perintahku. Engkau akan aku bawa ketempat di mana engkau sedang bermimpi” jawabnya.
“ Tidak, aku tidak akan mengikuti perintahmu karena engkau tak pernah tampak dihadapanku secara nyata” jawabku agak emosi.
“ Tak usahlah engkau mencariku dan dari mana asal usulku cukup engkau mengikuti perintahku dan mendengarkan segala apa yang kukatakan” begitu suara itu memberi petuah dan tatap menyeretku untuk pergi ke suatu tempat. Aku pun masih terlibat perdebatan dengan suara itu dan akhirnya aku mau.
Suara itu pun berkata:
“ Aku adalah jiwamu dan jiwamu adalah aku. Aku dan suara hatimu bersatu dan akan selalu mengikuti gerak gerikmu pada setiap apa yang engkau inginkan karena aku begitu erat dengan tubuhmu” membisikkan pada telingaku dengan suara lirih.
“ Anakku, bangun. Jangan selalu tenggelam dengan lamunan dan bayang-bayangmu. Segeralah bangun dari setiap mimpimu dan capailah dengan usaha” dengan nyerocos seperti seorang Da’i ibuku memberi petuah. Sebab ibulah yang memberiku segumpal darahnya untuk terus maju dan bercita-cita.
Aku pun tersadar dengan imajinasi-imajinasiku dan segera pergi mengecek kotak pos didepan rumahku, barangkali ada sebungkus surat untukku. Tetapi Ibuku lebih cepat mengecek surat-surat itu dan segera memberikannya kepadaku.
“ Ini ada surat untukmu” pagi-pagi sekali pak pos datang mengantarkannya. Kata ibuku.
“ Terimakasih, Bu” Sahutku.
Lalu, segera kubuka amplop yang berwarna coklat itu dan segera kubaca isinya. Dengan wajah terkejut sekaligus terharu bahwa mimpi-mimpiku tidak semu. Ini benar-benar nyata. Segera kukasih amplop itu pada ibuku. Dengan wajah berbinar ibuku mencium keningku sambil menetaskan airmatanya tanda terharu dan bangga mempunyai anak sepertiku.


0 komentar:
Posting Komentar