Ternyata, Masih Ada Harapan dan Impian
Oleh: Muna el Laily
Aku orang yang punya impian menuntut ilmu hingga ke luar negeri, aku orang biasa, tidak pintar, tapi aku mempunyai banyak kemampuan. Itu kata teman-temanku. Aku seorang sastrawan yang masih dalam proses, karya-karyaku sering ada di media. Hanya satu yang tak mampu kupunya, yaitu membaca kitab dengan maknanya, padahal aku jurusannya bahasa dan sastra Arab. Atomatis aku dituntut bisa membaca kitab kuning, lagi-lagi aku gagal. Aku pernah mencoba mengikuti lomba baca kitab, juara tak jadi milikku. Akhirnya aku menggerutu dalam hati bahwa masih ada orang yang lebih pintar. Aku tak kuasa menahan emosi, telingaku panas, akhirnya aku terus menerus belajar Nahwu dan Sharaf pada sekawanan yang kuanggap mampu dalam bidang ilmu nahwu dan Sharaf. Meski proses demi proses aku jalani, ilmu itu tak jua melekat dalam hatiku. Tapi tak apalah aku mengalami kegagalan, Dalam buku Zero to Hero dijelaskan karangan Solikhin Abu Izzuddin terbitan pro-U. Sebenarnya orang yang takut melangkah karena takut salah dialah yang gagal.. Akhirnya aku menekuni dunia jurnalistik dengan rubrik sastra. Disitulah khasku bisa disalurkan. Impianku, ingin mengembangkan ilmu dengan metode idealis yaitu menyampaikan ilmu lewat karya-karya dan menjadi duta penerjemah.
Hari ini, aku sudah semester tujuh, aku mensugesti hatiku dengan tekad S2 ke luar negeri atau Arab Saudi yang kuimpikan, agar Bahasa Arabku bisa berkembang. Aku anak dari orang tua yang ekonominya dibawah standart, bapakku adalah seorang sales rokok yang hasil uangnya dipakai untuk bayar SPP kuliahku. Matahari yang terik dan jalan-jalan sesak penuh asap polusi memakan badannya yang semakin membuatnya sakit berkepanjangan. Ibuku adalah seorang penjual gorengan di sekolahan SD. Itupun masih kurang untuk biaya makan keluargaku. Cita-citaku membahagiakan orang tuaku kelak dengan kesuksesan yang kucari. Untuk ayah dan bunda, aku minta restumu lewat suara tulisanku. Mudah-mudahan aku disukseskan dalam segala hal.
Tiap kali aku pulang kampung, aku selalu terlibat dalam perbincangan sederhana, rumahku tidak mewah, hanya berlandaskan gubuk yang sudah reot. Bapakku sangat konsisten menanyakan hal-hal baru selama aku merantau ke negeri orang demi menuntut ilmu. Lalu kuceritakan kehidupanku lewat tulisan hingga kesulitan menangkap sebuah kajian sederhana dari ilmu-ilmu yang kucari. Aku menyembunyikan penderitaanku selama merantau ilmu, mulai dari kesusahan makan, menelan ludah akibat sudah kelaparan. Aku hanya tersenyum saja pada orang tuaku bahwa aku baik-baik saja. Karna aku tak mau membebani mereka tapi aku masih sering membebani.
Pernah suatu ketika waktu aku menginjak SMA, aku adalah anak pesantren, tiap minggu aku dikirim, tapi hanya sebuah makanan jagung yang dimekarkan dari api-api rerongsokan untuk mempersamakan aku dengan teman-teman. Aku mensyukurinya, Aku melihat peluh ibuku berderaian. Aku tak tega melihatnya dan aku pun berikrar. “ibuku, mudah-mudahan ilmu yang ku dapat lebih banyak dari deraian peluhmu”. Ibuku menangis kala itu, akupun menangis jua. Hingga sampai detik ini aku menginjakkan kaki di jogja. Aku mengenal filosofi dari sikap ibuku. Di tiap pertengahan malam, disaat semua orang lelap ibuku berdoa. “Semoga ilmu yang ku dapat bermanfaat untuk bekal kelak di akhirat dan sangu di dunia yang saat ini kupijakkan”. Rasanya sangat indah sekali mempunyai orang tua yang semangat menuntunku untuk menuntut ilmu. Dan aku tak henti-hentinya bersyukur.
Detik semesteran, uangku sekarat. Aku dibimbangkan dengan banyak persoalan. Hingga pada akhir pendafataran aku belum juga menemukan pinjaman uang. Sedangkan orang tuaku di rumah juga mencari ke sana kemari dan bapakku sedang dirawat di rumah sakit, sakitnya komplikasi, mungkin bapak sangat kecapean tiap hari bekerja menghirup angin. Karna pekerjaan seorang sales memang membutuhkan tenaga yang cukup untuk berkeliling mencari pelanggan rokok. Aku lemah saat itu, tak mungkin aku membebankan orang tuaku dengan merengek agar SPPku segera dilunasi. Aku sudah berfikir cuti. Tak ada biaya untuk dibayarkan. Aku coba menghubungi seluruh sekawananku, tak ada yang membantu. Bukan mereka tak mau membantu hanya saja ia juga butuh untuk pembayaran. Akhirnya aku berdoa di lobi kampus sambil berdoa dan menangis kepada tuhan agar aku diberi kesabaran dan ketabahan menghadapi semuanya. Aku yakin, pasti tuhan menolongku. Akhirnya, aku menghubungi salah satu dosenku yang mengerti dengan keadaan ekonomiku. Dia akhirnya membantu separo dari apa yang harus dibayar, separonya lagi aku pinjam sama teman-temanku.
Pasca pembayaran SPP, aku harus berfikir lagi bagaimana cara melunasi hutang-hutangku. Akupun sudah ditagi-tagih sama teman-teman agar segera melunasinya. Jika aku tak melunasi hutang detik itu, dia tak akan lagi menganggapku teman. Beda dengan dosenku, dia memberiku keringanan, “kapan saja aku mau, jika ada uang. Tak apa kau bayar”. Begitu katanya, aku merasa lega karena bebanku tambah berkurang. “Aku kadang berfikir lucu dengan kehidupan, kenapa kadang ia kejam menarikku kesana-kemari, mulut berbusa dengan basa-basi dan mengisi pertengkaran edan yang tanpa persoalan”. Mengutip puisi WS. Rendra. aku senang mendengarkan sajaknya untuk sekadar menenangkan pikiranku dari segelumitnya persoalan.
Dari persoalan hutang hingga tak makan, tak ada uang untuk biaya hidup. Ditagih teman hingga mau memusuhiku, nestapa hati ini. Andai aku anak pejabat tinggi yang kerjanya hanya mondar-mandir sudah dapat uang, tapi jika kupikir, anak pejabat hanyalah pengusaha memakan rakyat miskin seperti aku. Mending aku jadi orang biasa saja menikmati kehidupan. Sedih, tawa, canda aku nikmati karna aku hidup di dunia ini hanyalah titipan. Sebenarnya aku tak miskin karena aku masih punya ilmu. Orang miskin yang sebenarnya adalah orang-orang yang tak mau berjuang dengan kemiskinannya untuk mencapai hakikat dan kepentingan jiwa.
Nabi Yusuf menderita sewaktu ia hidup, ia dimusuhi saudaranya hingga ia dicebur ke dalam sumur yang sangat dalam. Sangatlah tidak etis bagi Yusuf jika ia di istimewakan oleh tuhan, karna tuhan memanggilnya untuk menjadi pemimpin kerajaan. Ketika Nabi Ya’kub dengan si Nabi Yusuf berbincang-bincang bahwa baru saja ia bermimpi bintang-bintang yang berkilau menyembah dirinya. Perbincangan itu didengar oleh ibunya dan akhirnya diberitahukan pada saudara tirinya. Namanya Rubil, Rubilpun bersikeras ingin membunuh Yusuf dengan cara menceburkan Yusuf ke dalam sumur.
Suatu ketika, Nabi Ya’kub duduk-duduk santai di rumahnya, Rubil meminta izin pada nabi Ya’kub bahwa ia ingin sekali mengajak Nabi Yusuf berburu. Beliaupun mengizinkannya, ketika sudah sampai di hutan, Rubil melihat ada sumur dan ia berhasil menangkap Yusuf untuk di cebur ke sumur. Yusuf coba berusaha meminta tolong hingga menjerit-jerit tak ada satu orang pun yang menolongnya. Saudara-saudaranyapun tak menghiraukannya dan meningglkan Yusuf. Mereka pun pulang ke rumahnya dengan tidak membawa Yusuf. Nabi Ya’kub menanyakan “dimana anakku, Yusuf?”. Dengan tidak berdosanya, saudara-saudara Yusuf mengatakan bahwa Yusuf dimakan singa saat berburu tadi.
Nabi Yusuf berusaha ingin keluar dari dalam sumur itu, keinginannya untuk keluar dari sumur sangat ia dambakan. Ia meminta pertolongan tuhan agar segera dikeluarkan dari penderitaannya. Tapi nabi Yusuf cukup menikmati kesengsaraan itu, akhirnya suatu ketika tuhan mendatangkan seseorang yang sangat kehausan untuk mengisi tenggorokannya yang kering. Dia pun pergi ke sumur tempat Nabi Yusuf singgah, ketika ia menarik benda yang hendak ia tarik ke atas, tiba-tiba Nabi Yusuflah yang ketarik pada benda itu. Alangkah terkejutnya orang itu, saat melihat seorang ke angkut dari dalam sumur. Nabi Yusufpun dibawa ke istan kerajaan, dan menjadi raja disitu.
Sebelum ia menjabat sebagai raja, ia menghadapi segala cobaan yang cukup besar. Ia digoda para cewek-cewek karna terkagum-kagum dengan pesona ketampanannya. Namanya begitu familiar kita dengar yaitu Zulaikha. Ketika Zulaikha mencoba merayu dan menggoda Nabi Yusuf yang bukan muhrimnya, Nabi Yusufpun berusaha menghindari rayuan maut perempuan itu. hingga pada saat ia mencoba kabur, Zulaikha menarik baju belakangnya hingga bajunya Nabi Yusuf sobek. Semua orang tertegun, dan menyangka nabi Yusuf tengah merayu istrinya raja. Zulaikha pun menyalahi Yusuf. Pada akhirnya tuhan mendatangkan seorang bayi mungil yang baru lahir mengatakan bahwa bukan Yusuflah yang berusaha merayu tapi Zulaikha. Semua orang terkejut melihat pengakuan bayi mungil yang sudah bisa bicara.
Dari keajaiban yang diberikan tuhan untuk Nabi Yusuf, akupun juga meyakini, bahwa tuhan melihat usaha dan do’aku. Tiap doa kupanjatkan, aku ingin membuat orang tuaku bahagia dengan ilmu yang kupunya. Untuk bulan ini, tak mungkin minta kiriman orang tua, karna kondisi ekonomi orang tuaku saat ini sangat menyekek keluargaku. Masih ditambah dengan biaya inap bapakku. Akupun mencari informasi di kampus-kampus, barangkali ada lomba menulis karya lainnya, dan aku melihat info meresensi buku, tapi lagi-lagi aku selalu gagal.
Uang yang dijanjikan pada temanku tak jua aku kembalikan, pikirku, dengan aku menulis, maka aku akan mendapat uang dan bisa melunasi semua hutang-hutangku, agar ilmuku juga tersalurkan dan bermanfaat bagi semua orang dengan cara menulis. Aku melihat brosur di papan pengumuman bahwa ada penyaluran bakat anak Indonesia melalui karyanya yang diadakan oleh Bali Literary Award. Aku mengikuti lomba karya tulis cerpen itu, tapi lagi-lagi aku gagal. Sudah beberapa lomba aku ikuti, semuanya gagal. Aku terus tidak patah arang, Aku mencari informasi tentang kerjaan, barangkali aku bisa diterima dengan kerja menjadi penjaga toko buku. Dan aku pun diterima bekerja di situ tapi gaji kerjaku tidak sebanding dengan hutang-hutangku dan biaya inap bapakku.
Namun, ketika semua akan berakhir, semua yang ada berawal dari sebuah penderitaan. Aku ditawarkan menjadi seorang pengajar tetap di sebuah lembaga dan gajianku lumayan untuk sekadar makan. Tuhan mendengar doaku, ia tak pernah tidur untuk melihat ciptaannya berdoa. Bulan dan jalan setapak senjaku akhirnya terang yang berihwal dengan dengan ketidak validan dan kelam. Dengan begini aku bisa menikmati ilmu yang kupunya selama memperjuangkannya bertahun-tahun dengan rasa yang cukup nelangsa. Tapi perjalananku mencari ilmu tidak hanya sampai di sini, dengan diterimanya aku sebagai pengajar tetap. Itu artinya aku masih punya peluang untuk melanjutkan S2 ke luar Negeri.
Kisah ini untuk diikutsertakan dalam Lomba Kisah Menggugah Pro-U Media 2010 di http://proumedia.blogspot.com/2010/10/lomba-kisah-pendek-menggugah-pro-u.html
Muna el Laily
Kecupan Berduri
kecupan bukanlah birahi
bukan pula petikan gitar yang hendak dimainkan
melainkan angin yang menyusuri malam
meminta restu dan kehalalan Tuhan
juga keindahan sorga yang Ia janjikan
tangisan menari-nari diatas pipi
saat kecupan berupa duri
yang tak direstui
pun bubur menjadi nasi
luka terasa abadi
Sapen, 24 Februari 2010
Peri Bulan
peri itu datang
pada sepi di lorong bulan
dia sering mendendangkan rindu
pada malam petang
aku pun terjaga
dengan rindu yang ia pinta
pandangku ke langit
barangkali bulan dan bintang masih bersenggama kata
hari menjelang remang
aku rindu pada peri bulan
yang sering menyanyikan lagu kerinduan
menyaksikan bukit bintang
kembang api yang sering kita nikmati
juga keturunan dari perkawinan jari-jari
saat itu jiwa kita menyatu
dibawah bulan diatas perdu
Malam, 26 Februari 2010
Cinta pada Rindu
jarak dan waktu
menghabiskan energi rindu
lalu menghilang suram
diatas tumpukan batu
mengejar cinta
separuh air dalam gelas
terlihat wajahmu
separuhnya lagi berupa rindu
bening sehening matamu
linangan air mata rindu
bersuara memimpikan irama dalam dada
perih mengalun dzikir kusebut namanya
Malam, 04 Maret 2010
Negeri yang Terluka
Cerpen: Muna el Laily
Akar-akar pohon itu terluka ditebang pemerintah, tak luput penggusuran rumah pun merusak lekuk-lekuk tubuh infrastruktur menjadi debu tak bertanah. Seluruh jalan di kota-kota terpenuhi dengan kerlap-kerlip lampu seakan-akan udara di negeri ini begitu indah. Tapi tidak dengan hatiku, lukaku terasa dalam dibuatnya. Luka akan cinta, cita dan luka atas perbuatan orang-orang yang tak bertanggung jawab terhadap keadaan negeri ini. Ngilu membuat rongga leherku bertubi-tubi menelan ludah yang tak akan berakhir dengan senyuman. Ludahku ketelan setelah aku meratapi orang-orang yang bisa bertahan hidup demi mengisi kekosongan otaknya, jiwanya yang tergelantung di atas kertas dan pena. Hidupku tak semewah mereka. Iri menyiksa batin yang nestapa. Bolehkah aku iri pada ilmu mereka yang membuatnya hidup mewah dan menjadikan meja-meja makanannya penuh? Tapi aku selalu bertanya, dapat darimana para pemerintah memiliki hidangan sebanyak bergudang-gudang? hak rakyatkah?
Sepertinya aku tak layak iri terhadap kejeniusan mereka. Aku hanya iri terhadap orang yang bisa bertahan hidup dengan sebuah karya yang tak mereka punya. Inginku kerja dengan menguras tenaga, tapi aku tak mau jadi budak mereka. Lebih-lebih dengan adanya kasus Bank Century yang mencekik leher-leher rakyat tak bersalah. Haruskah mereka menanggung semua akibat pemerintah yang semakin tak becus menangani rakyatnya? Aku semakin dilema dengan kehidupan. Bisakah aku meraih cita-cita yang aku impikan sedangkan keadaan ekonomiku pas-pasan? Bisakah aku menjadi seorang ilmuwan? Sedangkan otakku tak secanggih mereka yang brilian. Tapi aku yakin, kesuksesan sedang di ambang pintu, hanya saja binatang sebesar gajah itu tak menampakkan keabsurdannya. Aku akan terus berusaha meraih cita-cita itu ke arah mana pun. Aku ingin menjadi anak asuhnya Al-Ghazali. Sepintar para gubernur yang sudah mengusai sedikit ilmu Tuhan. Tuhan akan melihat usaha dan ketekunan orang dalam segala hal. Jadi aku tak perlu pesimis dengan apa yang aku cita-citakan.
Terkadang, hatiku menjerit di negeri ini karena detik ini ilmuku belum sebanding dengan apa yang aku cita-citakan. Ilmu pengetahuanku masih sangat minim. Hal yang demikian membuat jiwaku tersiksa seakan-akan hidup tak ada guna. Kucoba menulis isi hati di dinding dengan pena, barangkali ada yang mendengar bisikan hati yang pernah kudenguskan. Tapi faktanya nihil, tak ada satu pun tulisanku yang di muat di berbagai media. Barangkali bukan bakatku terkenal dengan keilmuanku di berbagai media, dan mungkin rejekiku tak ada di sana. Tapi aku akan terus berusaha mengembangkan bakat tulis menulisku dalam karya apapun, karena aku ingin membanggakan orang tuaku dengan melihatku sukses. Akankah aku terbang ke negeri Jiran atau hanya terbang berdiam di Kairo dan Mesir. Itu merupakan cita-cita terindahku sejak masih kecil dulu. Karena aku pernah mengubur cita-cita itu diatas kuburan hingga aku menangis sesenggukan.
Negeriku, engkau membuatku langka dalam segalanya. Dilema dalam ilmu dan bisnis. Karena aku juga ingin sukses dalam bisnis. Tapi tak mungkin dua-duanya aku raih, dan aku harus mengorbankan salah satunya. Ketika kurenung sejenak, penulis tak akan membuatku kaya, hanya ilmu yang aku dapatkan dan mungkin hanya sebatas membasahkan perutku dengan satu sendok makanan, sedangkan berbisnis merupakan segalanya. Uang ada, ilmu ada, bgitu pula dengan harta. Jadi tak perlu repot-repot dengan mencari sesuap nasi. Tapi tak apalah aku berpetualang dengan penaku, barangkali aku akan kaya kelak setelah beberapa ilmu kukuasai. Tinimbang aku berbisnis, tak akan merasakan nikmatnya kelaparan yang sengit hingga seluruh sendi-sendiku tergores karena keseringan mengenyam makanan. Itu malah tak bagus dalam menuntut ilmu. Kata guruku begitu, hingga muncul pribahasa “perbanyaklah makan, kurangi belajar”.
Detik ini, di tahun 2010, negeriku juga harus terluka akibat kasus Bank Century yang permasalahannya semakin berlarut-larut. Ditambah lagi dengan kasusnya Antasari Azhar yang mulai tidak jelas hukumannya. Pantaskah aku bilang, jika negeriku adalah negeri pembohong, negeriku tukang tipu dan perlu melakukan oksigen agar tak ada virus-virus dalam negeri ini dan semuanya bersih dari kutukan. Begitu pula dengan cacian dari orang-orang luar negeri banhwa Indonesia hanya bisa mengcopy paste karya cipta orang bisa dibodohi dan diperbudak. Buktinya, dengan munculnya westernisasi. Tidak malukah kita sebagai generasi pemuda terhadap tokoh-tokoh yang memperjuangkan Indonesia?
Kota Jogja aku tinggal, kini telah dibasahi dengan genangan air, karena mulai sejak tadi pagi hujan mengguyur tubuh kota yang indah ini. Hingga membuat jiwaku lunak seperti dan selembut air. Mendung juga tak ada kabar tentang senja. Cuaca membuatku malas untuk bekerja lebih-lebih untuk belajar. Ternyata sudah lama rupanya buku-buku yang bertumpukan di rak bukuku tak pernah kubaca. Debu pun berontak memakannya dan sarang-sarang pekat menunggu penghuninya menghampiri. Ketika aku lihat satu per satu, aku mulai tertarik dengan buku yang berjudul “korupsi” sebuah kumpulan karya tulis yang disusun oleh penerbit Kompas. Lembar perlembar sudah mulai kubaca, di situ menjelaskan bahwa korupsi memang sudah menjadi wacana yang tak pernah lapuk dan akan terus menerus berkembang. Yang aku pikirkan detik ini bagaimana cara menghentikan korupsi yang semakin tak terkendali di negeri ini? Dalam buku tersebut, aku sedikit memahami konsep Habermas yang diterapkan untuk menganalisis gejala korupsi yang menjelaskan empat dimensi bahasa yang harus ada. 1) Hubungan internal bahasa dengan dirinya sendiri. Yang disebut dengan verstaendlichkeit dan comprehensibility. 2) Hubungan bahasa dengan obyek yang ditunjuk oleh bahasa itu. Yang dikenal dengan sebutan wahrheit dan truth. 3) Hubungan bahasa dengan orang yang menggunakan bahasa itu, yang melahirkan dimensi wahrhaftigkeit dan truthfulness.4) Hubungan bahasa dengan norma-norma yang berlaku dalam suatu kelompok sosial, yang membawa kita kepada dimensi richtigkeit dan rightness. Beberapa dimensi ini, mungkin bisa menjadi bahan renungan dan perkembangan setelah melakukan refresh dengan hadirnya tulisan ini dan untuk perkembangan ssetelahnya.
Kemudian aku memberi kesimpulan pada pernyataan Habermas di atas, bahwa wacana Habermas tentang korupsi mempunyai manfaat diagnotik yang besar, karena keempat syarat wacana itu dapat menolong untuk mengidentifikasi pada titik mana terjadi penyelewengan atau distorsi, apakah pada tingkat epistimologi, linguistik, psikologis atau pada tingkat moral. Demikian pikirku tentang wacana Habermas dalam menafsirkan korupsi. Otakku mulai berjalan 100% ketika membaca buku itu, dan aku mulai ingat keterangan dosen tentang bahasa, ia menyatakan bahwa kunci kita sukses adalah bahasa. sebagaimana ia berdalih terhadap sabda tuhan yang mengatakan bahwa segala sesuatu yang ada dibumi adalah cipataan-Nya dan bahasa merupakan cipataan tuhan untuk kita saling komonikasi. Tanpa bahasa kita tak pernah mengerti tentang kehidupan juga tak pernah mengerti tentang segalanya. Kemana-kemana kita pasti mengusung sebuah bahasa, entah itu bahasa Inggris, jerman and the other. Tak kalah saingnya dengan teori Ibnu Jinni yang mengeluarkan jurus ilmu linguistiknya dengan teori-teorinya. Ada teori pooh-pooh yaitu teori yang keluar dari insting manusia. Teori ding-dong yaitu teori yang sesuai dengan kata hati, kemana hati itu mengarah dan teori ya ye yo yaitu kumpulan manusia yang melahirkan ungkapan-ungkapan.
Ternyata Habermas membawaku pada kesimpulan yang sangat bijak dalam menangani konsep korupsi. Agar tidak ada ketimpangan memahami kata “korupsi”. Bahasa sungguh mengartikan dan memberikan hal-hal baru dalam wacana ini. Aku pun lihai dibuatnya dengan banyak memunculkan beribu-ribu kata. Pagi tak mau menawarkan kesetiannya lagi, Pagiku pergi bersama kabut sunyi. Malam datang menghampiri bintang pun hadir tanpa bulan. Akhirnya kulihat remang-remang dalam kesepian. Hal ini masih tentang negeriku yang serba kekurangan. Tiba-tiba aku terperanjat dari kesunyian bahwa negeriku banyak hutang. Hutang kepada luar negeri gara-gara orang tak bertanggung jawab, hutang kepada rakyat yang mulai tertindas dengan sikap pemerintah. Hal tersebut tidak hanya terjadi pada negeri ini, aku pun terkena imbas dari kejahatan-kejahatan itu. Darahku dilumuri banyak hutang, hutang akan uang dan hutang akan jasa orang tua yang pernah melahirkanku ke dunia. Mampukah aku melunasi hutang-hutang itu? Sementara hatiku masih belum pernah menerima uang sebanyak triliunan. Seharusnya aku tak dilahirkan agar tak ada dalam kehidupan dan penderitaan, tapi itulah takdir tuhan yang mesti aku syukuri. Karena jika tidak demikian, aku tak akan pernah merasakan nikmatnya kehidupan yang hakiki.
Negeriku tetaplah negeriku, sejelek apapun itu. Sehancur bulan pun, negeriku tetaplah indah seperti purnama malam meski dalam tembok ratapan. Karena disini aku juga merasakan kasih percintaan yang mengantarku pada kedewasaan. Berfikir logis, imajinatif dan realistis. Kina aku sadar, cinta adalah fitroh tuhan yang telah dibagikan pada tiap-tiap umatnya. Tapi, lagi-lagi aku tengah dipermasalahkan dengan uang. Bagaimanapun, uang adalah syarat utama kehidupan. Tidak hanya cinta yang butuh pengorabanan Ilmu pun harus dengan uang dan sangat butuh pengorbanan. Hal ini menyerang kantong keluargaku yang bersikap apatis terhadapku karena menjadi kisah dari sepenggal kata “uang” dan menjadi rumus dari angka-angka seratus, seribu bahkan gopek. Aku harus membangun negeriku kembali dengan potensi-potensi.

