Negeri yang Terluka
Cerpen: Muna el Laily
Akar-akar pohon itu terluka ditebang pemerintah, tak luput penggusuran rumah pun merusak lekuk-lekuk tubuh infrastruktur menjadi debu tak bertanah. Seluruh jalan di kota-kota terpenuhi dengan kerlap-kerlip lampu seakan-akan udara di negeri ini begitu indah. Tapi tidak dengan hatiku, lukaku terasa dalam dibuatnya. Luka akan cinta, cita dan luka atas perbuatan orang-orang yang tak bertanggung jawab terhadap keadaan negeri ini. Ngilu membuat rongga leherku bertubi-tubi menelan ludah yang tak akan berakhir dengan senyuman. Ludahku ketelan setelah aku meratapi orang-orang yang bisa bertahan hidup demi mengisi kekosongan otaknya, jiwanya yang tergelantung di atas kertas dan pena. Hidupku tak semewah mereka. Iri menyiksa batin yang nestapa. Bolehkah aku iri pada ilmu mereka yang membuatnya hidup mewah dan menjadikan meja-meja makanannya penuh? Tapi aku selalu bertanya, dapat darimana para pemerintah memiliki hidangan sebanyak bergudang-gudang? hak rakyatkah?
Sepertinya aku tak layak iri terhadap kejeniusan mereka. Aku hanya iri terhadap orang yang bisa bertahan hidup dengan sebuah karya yang tak mereka punya. Inginku kerja dengan menguras tenaga, tapi aku tak mau jadi budak mereka. Lebih-lebih dengan adanya kasus Bank Century yang mencekik leher-leher rakyat tak bersalah. Haruskah mereka menanggung semua akibat pemerintah yang semakin tak becus menangani rakyatnya? Aku semakin dilema dengan kehidupan. Bisakah aku meraih cita-cita yang aku impikan sedangkan keadaan ekonomiku pas-pasan? Bisakah aku menjadi seorang ilmuwan? Sedangkan otakku tak secanggih mereka yang brilian. Tapi aku yakin, kesuksesan sedang di ambang pintu, hanya saja binatang sebesar gajah itu tak menampakkan keabsurdannya. Aku akan terus berusaha meraih cita-cita itu ke arah mana pun. Aku ingin menjadi anak asuhnya Al-Ghazali. Sepintar para gubernur yang sudah mengusai sedikit ilmu Tuhan. Tuhan akan melihat usaha dan ketekunan orang dalam segala hal. Jadi aku tak perlu pesimis dengan apa yang aku cita-citakan.
Terkadang, hatiku menjerit di negeri ini karena detik ini ilmuku belum sebanding dengan apa yang aku cita-citakan. Ilmu pengetahuanku masih sangat minim. Hal yang demikian membuat jiwaku tersiksa seakan-akan hidup tak ada guna. Kucoba menulis isi hati di dinding dengan pena, barangkali ada yang mendengar bisikan hati yang pernah kudenguskan. Tapi faktanya nihil, tak ada satu pun tulisanku yang di muat di berbagai media. Barangkali bukan bakatku terkenal dengan keilmuanku di berbagai media, dan mungkin rejekiku tak ada di sana. Tapi aku akan terus berusaha mengembangkan bakat tulis menulisku dalam karya apapun, karena aku ingin membanggakan orang tuaku dengan melihatku sukses. Akankah aku terbang ke negeri Jiran atau hanya terbang berdiam di Kairo dan Mesir. Itu merupakan cita-cita terindahku sejak masih kecil dulu. Karena aku pernah mengubur cita-cita itu diatas kuburan hingga aku menangis sesenggukan.
Negeriku, engkau membuatku langka dalam segalanya. Dilema dalam ilmu dan bisnis. Karena aku juga ingin sukses dalam bisnis. Tapi tak mungkin dua-duanya aku raih, dan aku harus mengorbankan salah satunya. Ketika kurenung sejenak, penulis tak akan membuatku kaya, hanya ilmu yang aku dapatkan dan mungkin hanya sebatas membasahkan perutku dengan satu sendok makanan, sedangkan berbisnis merupakan segalanya. Uang ada, ilmu ada, bgitu pula dengan harta. Jadi tak perlu repot-repot dengan mencari sesuap nasi. Tapi tak apalah aku berpetualang dengan penaku, barangkali aku akan kaya kelak setelah beberapa ilmu kukuasai. Tinimbang aku berbisnis, tak akan merasakan nikmatnya kelaparan yang sengit hingga seluruh sendi-sendiku tergores karena keseringan mengenyam makanan. Itu malah tak bagus dalam menuntut ilmu. Kata guruku begitu, hingga muncul pribahasa “perbanyaklah makan, kurangi belajar”.
Detik ini, di tahun 2010, negeriku juga harus terluka akibat kasus Bank Century yang permasalahannya semakin berlarut-larut. Ditambah lagi dengan kasusnya Antasari Azhar yang mulai tidak jelas hukumannya. Pantaskah aku bilang, jika negeriku adalah negeri pembohong, negeriku tukang tipu dan perlu melakukan oksigen agar tak ada virus-virus dalam negeri ini dan semuanya bersih dari kutukan. Begitu pula dengan cacian dari orang-orang luar negeri banhwa Indonesia hanya bisa mengcopy paste karya cipta orang bisa dibodohi dan diperbudak. Buktinya, dengan munculnya westernisasi. Tidak malukah kita sebagai generasi pemuda terhadap tokoh-tokoh yang memperjuangkan Indonesia?
Kota Jogja aku tinggal, kini telah dibasahi dengan genangan air, karena mulai sejak tadi pagi hujan mengguyur tubuh kota yang indah ini. Hingga membuat jiwaku lunak seperti dan selembut air. Mendung juga tak ada kabar tentang senja. Cuaca membuatku malas untuk bekerja lebih-lebih untuk belajar. Ternyata sudah lama rupanya buku-buku yang bertumpukan di rak bukuku tak pernah kubaca. Debu pun berontak memakannya dan sarang-sarang pekat menunggu penghuninya menghampiri. Ketika aku lihat satu per satu, aku mulai tertarik dengan buku yang berjudul “korupsi” sebuah kumpulan karya tulis yang disusun oleh penerbit Kompas. Lembar perlembar sudah mulai kubaca, di situ menjelaskan bahwa korupsi memang sudah menjadi wacana yang tak pernah lapuk dan akan terus menerus berkembang. Yang aku pikirkan detik ini bagaimana cara menghentikan korupsi yang semakin tak terkendali di negeri ini? Dalam buku tersebut, aku sedikit memahami konsep Habermas yang diterapkan untuk menganalisis gejala korupsi yang menjelaskan empat dimensi bahasa yang harus ada. 1) Hubungan internal bahasa dengan dirinya sendiri. Yang disebut dengan verstaendlichkeit dan comprehensibility. 2) Hubungan bahasa dengan obyek yang ditunjuk oleh bahasa itu. Yang dikenal dengan sebutan wahrheit dan truth. 3) Hubungan bahasa dengan orang yang menggunakan bahasa itu, yang melahirkan dimensi wahrhaftigkeit dan truthfulness.4) Hubungan bahasa dengan norma-norma yang berlaku dalam suatu kelompok sosial, yang membawa kita kepada dimensi richtigkeit dan rightness. Beberapa dimensi ini, mungkin bisa menjadi bahan renungan dan perkembangan setelah melakukan refresh dengan hadirnya tulisan ini dan untuk perkembangan ssetelahnya.
Kemudian aku memberi kesimpulan pada pernyataan Habermas di atas, bahwa wacana Habermas tentang korupsi mempunyai manfaat diagnotik yang besar, karena keempat syarat wacana itu dapat menolong untuk mengidentifikasi pada titik mana terjadi penyelewengan atau distorsi, apakah pada tingkat epistimologi, linguistik, psikologis atau pada tingkat moral. Demikian pikirku tentang wacana Habermas dalam menafsirkan korupsi. Otakku mulai berjalan 100% ketika membaca buku itu, dan aku mulai ingat keterangan dosen tentang bahasa, ia menyatakan bahwa kunci kita sukses adalah bahasa. sebagaimana ia berdalih terhadap sabda tuhan yang mengatakan bahwa segala sesuatu yang ada dibumi adalah cipataan-Nya dan bahasa merupakan cipataan tuhan untuk kita saling komonikasi. Tanpa bahasa kita tak pernah mengerti tentang kehidupan juga tak pernah mengerti tentang segalanya. Kemana-kemana kita pasti mengusung sebuah bahasa, entah itu bahasa Inggris, jerman and the other. Tak kalah saingnya dengan teori Ibnu Jinni yang mengeluarkan jurus ilmu linguistiknya dengan teori-teorinya. Ada teori pooh-pooh yaitu teori yang keluar dari insting manusia. Teori ding-dong yaitu teori yang sesuai dengan kata hati, kemana hati itu mengarah dan teori ya ye yo yaitu kumpulan manusia yang melahirkan ungkapan-ungkapan.
Ternyata Habermas membawaku pada kesimpulan yang sangat bijak dalam menangani konsep korupsi. Agar tidak ada ketimpangan memahami kata “korupsi”. Bahasa sungguh mengartikan dan memberikan hal-hal baru dalam wacana ini. Aku pun lihai dibuatnya dengan banyak memunculkan beribu-ribu kata. Pagi tak mau menawarkan kesetiannya lagi, Pagiku pergi bersama kabut sunyi. Malam datang menghampiri bintang pun hadir tanpa bulan. Akhirnya kulihat remang-remang dalam kesepian. Hal ini masih tentang negeriku yang serba kekurangan. Tiba-tiba aku terperanjat dari kesunyian bahwa negeriku banyak hutang. Hutang kepada luar negeri gara-gara orang tak bertanggung jawab, hutang kepada rakyat yang mulai tertindas dengan sikap pemerintah. Hal tersebut tidak hanya terjadi pada negeri ini, aku pun terkena imbas dari kejahatan-kejahatan itu. Darahku dilumuri banyak hutang, hutang akan uang dan hutang akan jasa orang tua yang pernah melahirkanku ke dunia. Mampukah aku melunasi hutang-hutang itu? Sementara hatiku masih belum pernah menerima uang sebanyak triliunan. Seharusnya aku tak dilahirkan agar tak ada dalam kehidupan dan penderitaan, tapi itulah takdir tuhan yang mesti aku syukuri. Karena jika tidak demikian, aku tak akan pernah merasakan nikmatnya kehidupan yang hakiki.
Negeriku tetaplah negeriku, sejelek apapun itu. Sehancur bulan pun, negeriku tetaplah indah seperti purnama malam meski dalam tembok ratapan. Karena disini aku juga merasakan kasih percintaan yang mengantarku pada kedewasaan. Berfikir logis, imajinatif dan realistis. Kina aku sadar, cinta adalah fitroh tuhan yang telah dibagikan pada tiap-tiap umatnya. Tapi, lagi-lagi aku tengah dipermasalahkan dengan uang. Bagaimanapun, uang adalah syarat utama kehidupan. Tidak hanya cinta yang butuh pengorabanan Ilmu pun harus dengan uang dan sangat butuh pengorbanan. Hal ini menyerang kantong keluargaku yang bersikap apatis terhadapku karena menjadi kisah dari sepenggal kata “uang” dan menjadi rumus dari angka-angka seratus, seribu bahkan gopek. Aku harus membangun negeriku kembali dengan potensi-potensi.


0 komentar:
Posting Komentar