Negeri yang Terluka
Cerpen: Muna el Laily
Akar-akar pohon itu terluka ditebang pemerintah, tak luput penggusuran rumah pun merusak lekuk-lekuk tubuh infrastruktur menjadi debu tak bertanah. Seluruh jalan di kota-kota terpenuhi dengan kerlap-kerlip lampu seakan-akan udara di negeri ini begitu indah. Tapi tidak dengan hatiku, lukaku terasa dalam dibuatnya. Luka akan cinta, cita dan luka atas perbuatan orang-orang yang tak bertanggung jawab terhadap keadaan negeri ini. Ngilu membuat rongga leherku bertubi-tubi menelan ludah yang tak akan berakhir dengan senyuman. Ludahku ketelan setelah aku meratapi orang-orang yang bisa bertahan hidup demi mengisi kekosongan otaknya, jiwanya yang tergelantung di atas kertas dan pena. Hidupku tak semewah mereka. Iri menyiksa batin yang nestapa. Bolehkah aku iri pada ilmu mereka yang membuatnya hidup mewah dan menjadikan meja-meja makanannya penuh? Tapi aku selalu bertanya, dapat darimana para pemerintah memiliki hidangan sebanyak bergudang-gudang? hak rakyatkah?
Sepertinya aku tak layak iri terhadap kejeniusan mereka. Aku hanya iri terhadap orang yang bisa bertahan hidup dengan sebuah karya yang tak mereka punya. Inginku kerja dengan menguras tenaga, tapi aku tak mau jadi budak mereka. Lebih-lebih dengan adanya kasus Bank Century yang mencekik leher-leher rakyat tak bersalah. Haruskah mereka menanggung semua akibat pemerintah yang semakin tak becus menangani rakyatnya? Aku semakin dilema dengan kehidupan. Bisakah aku meraih cita-cita yang aku impikan sedangkan keadaan ekonomiku pas-pasan? Bisakah aku menjadi seorang ilmuwan? Sedangkan otakku tak secanggih mereka yang brilian. Tapi aku yakin, kesuksesan sedang di ambang pintu, hanya saja binatang sebesar gajah itu tak menampakkan keabsurdannya. Aku akan terus berusaha meraih cita-cita itu ke arah mana pun. Aku ingin menjadi anak asuhnya Al-Ghazali. Sepintar para gubernur yang sudah mengusai sedikit ilmu Tuhan. Tuhan akan melihat usaha dan ketekunan orang dalam segala hal. Jadi aku tak perlu pesimis dengan apa yang aku cita-citakan.
Terkadang, hatiku menjerit di negeri ini karena detik ini ilmuku belum sebanding dengan apa yang aku cita-citakan. Ilmu pengetahuanku masih sangat minim. Hal yang demikian membuat jiwaku tersiksa seakan-akan hidup tak ada guna. Kucoba menulis isi hati di dinding dengan pena, barangkali ada yang mendengar bisikan hati yang pernah kudenguskan. Tapi faktanya nihil, tak ada satu pun tulisanku yang di muat di berbagai media. Barangkali bukan bakatku terkenal dengan keilmuanku di berbagai media, dan mungkin rejekiku tak ada di sana. Tapi aku akan terus berusaha mengembangkan bakat tulis menulisku dalam karya apapun, karena aku ingin membanggakan orang tuaku dengan melihatku sukses. Akankah aku terbang ke negeri Jiran atau hanya terbang berdiam di Kairo dan Mesir. Itu merupakan cita-cita terindahku sejak masih kecil dulu. Karena aku pernah mengubur cita-cita itu diatas kuburan hingga aku menangis sesenggukan.
Negeriku, engkau membuatku langka dalam segalanya. Dilema dalam ilmu dan bisnis. Karena aku juga ingin sukses dalam bisnis. Tapi tak mungkin dua-duanya aku raih, dan aku harus mengorbankan salah satunya. Ketika kurenung sejenak, penulis tak akan membuatku kaya, hanya ilmu yang aku dapatkan dan mungkin hanya sebatas membasahkan perutku dengan satu sendok makanan, sedangkan berbisnis merupakan segalanya. Uang ada, ilmu ada, bgitu pula dengan harta. Jadi tak perlu repot-repot dengan mencari sesuap nasi. Tapi tak apalah aku berpetualang dengan penaku, barangkali aku akan kaya kelak setelah beberapa ilmu kukuasai. Tinimbang aku berbisnis, tak akan merasakan nikmatnya kelaparan yang sengit hingga seluruh sendi-sendiku tergores karena keseringan mengenyam makanan. Itu malah tak bagus dalam menuntut ilmu. Kata guruku begitu, hingga muncul pribahasa “perbanyaklah makan, kurangi belajar”.
Detik ini, di tahun 2010, negeriku juga harus terluka akibat kasus Bank Century yang permasalahannya semakin berlarut-larut. Ditambah lagi dengan kasusnya Antasari Azhar yang mulai tidak jelas hukumannya. Pantaskah aku bilang, jika negeriku adalah negeri pembohong, negeriku tukang tipu dan perlu melakukan oksigen agar tak ada virus-virus dalam negeri ini dan semuanya bersih dari kutukan. Begitu pula dengan cacian dari orang-orang luar negeri banhwa Indonesia hanya bisa mengcopy paste karya cipta orang bisa dibodohi dan diperbudak. Buktinya, dengan munculnya westernisasi. Tidak malukah kita sebagai generasi pemuda terhadap tokoh-tokoh yang memperjuangkan Indonesia?
Kota Jogja aku tinggal, kini telah dibasahi dengan genangan air, karena mulai sejak tadi pagi hujan mengguyur tubuh kota yang indah ini. Hingga membuat jiwaku lunak seperti dan selembut air. Mendung juga tak ada kabar tentang senja. Cuaca membuatku malas untuk bekerja lebih-lebih untuk belajar. Ternyata sudah lama rupanya buku-buku yang bertumpukan di rak bukuku tak pernah kubaca. Debu pun berontak memakannya dan sarang-sarang pekat menunggu penghuninya menghampiri. Ketika aku lihat satu per satu, aku mulai tertarik dengan buku yang berjudul “korupsi” sebuah kumpulan karya tulis yang disusun oleh penerbit Kompas. Lembar perlembar sudah mulai kubaca, di situ menjelaskan bahwa korupsi memang sudah menjadi wacana yang tak pernah lapuk dan akan terus menerus berkembang. Yang aku pikirkan detik ini bagaimana cara menghentikan korupsi yang semakin tak terkendali di negeri ini? Dalam buku tersebut, aku sedikit memahami konsep Habermas yang diterapkan untuk menganalisis gejala korupsi yang menjelaskan empat dimensi bahasa yang harus ada. 1) Hubungan internal bahasa dengan dirinya sendiri. Yang disebut dengan verstaendlichkeit dan comprehensibility. 2) Hubungan bahasa dengan obyek yang ditunjuk oleh bahasa itu. Yang dikenal dengan sebutan wahrheit dan truth. 3) Hubungan bahasa dengan orang yang menggunakan bahasa itu, yang melahirkan dimensi wahrhaftigkeit dan truthfulness.4) Hubungan bahasa dengan norma-norma yang berlaku dalam suatu kelompok sosial, yang membawa kita kepada dimensi richtigkeit dan rightness. Beberapa dimensi ini, mungkin bisa menjadi bahan renungan dan perkembangan setelah melakukan refresh dengan hadirnya tulisan ini dan untuk perkembangan ssetelahnya.
Kemudian aku memberi kesimpulan pada pernyataan Habermas di atas, bahwa wacana Habermas tentang korupsi mempunyai manfaat diagnotik yang besar, karena keempat syarat wacana itu dapat menolong untuk mengidentifikasi pada titik mana terjadi penyelewengan atau distorsi, apakah pada tingkat epistimologi, linguistik, psikologis atau pada tingkat moral. Demikian pikirku tentang wacana Habermas dalam menafsirkan korupsi. Otakku mulai berjalan 100% ketika membaca buku itu, dan aku mulai ingat keterangan dosen tentang bahasa, ia menyatakan bahwa kunci kita sukses adalah bahasa. sebagaimana ia berdalih terhadap sabda tuhan yang mengatakan bahwa segala sesuatu yang ada dibumi adalah cipataan-Nya dan bahasa merupakan cipataan tuhan untuk kita saling komonikasi. Tanpa bahasa kita tak pernah mengerti tentang kehidupan juga tak pernah mengerti tentang segalanya. Kemana-kemana kita pasti mengusung sebuah bahasa, entah itu bahasa Inggris, jerman and the other. Tak kalah saingnya dengan teori Ibnu Jinni yang mengeluarkan jurus ilmu linguistiknya dengan teori-teorinya. Ada teori pooh-pooh yaitu teori yang keluar dari insting manusia. Teori ding-dong yaitu teori yang sesuai dengan kata hati, kemana hati itu mengarah dan teori ya ye yo yaitu kumpulan manusia yang melahirkan ungkapan-ungkapan.
Ternyata Habermas membawaku pada kesimpulan yang sangat bijak dalam menangani konsep korupsi. Agar tidak ada ketimpangan memahami kata “korupsi”. Bahasa sungguh mengartikan dan memberikan hal-hal baru dalam wacana ini. Aku pun lihai dibuatnya dengan banyak memunculkan beribu-ribu kata. Pagi tak mau menawarkan kesetiannya lagi, Pagiku pergi bersama kabut sunyi. Malam datang menghampiri bintang pun hadir tanpa bulan. Akhirnya kulihat remang-remang dalam kesepian. Hal ini masih tentang negeriku yang serba kekurangan. Tiba-tiba aku terperanjat dari kesunyian bahwa negeriku banyak hutang. Hutang kepada luar negeri gara-gara orang tak bertanggung jawab, hutang kepada rakyat yang mulai tertindas dengan sikap pemerintah. Hal tersebut tidak hanya terjadi pada negeri ini, aku pun terkena imbas dari kejahatan-kejahatan itu. Darahku dilumuri banyak hutang, hutang akan uang dan hutang akan jasa orang tua yang pernah melahirkanku ke dunia. Mampukah aku melunasi hutang-hutang itu? Sementara hatiku masih belum pernah menerima uang sebanyak triliunan. Seharusnya aku tak dilahirkan agar tak ada dalam kehidupan dan penderitaan, tapi itulah takdir tuhan yang mesti aku syukuri. Karena jika tidak demikian, aku tak akan pernah merasakan nikmatnya kehidupan yang hakiki.
Negeriku tetaplah negeriku, sejelek apapun itu. Sehancur bulan pun, negeriku tetaplah indah seperti purnama malam meski dalam tembok ratapan. Karena disini aku juga merasakan kasih percintaan yang mengantarku pada kedewasaan. Berfikir logis, imajinatif dan realistis. Kina aku sadar, cinta adalah fitroh tuhan yang telah dibagikan pada tiap-tiap umatnya. Tapi, lagi-lagi aku tengah dipermasalahkan dengan uang. Bagaimanapun, uang adalah syarat utama kehidupan. Tidak hanya cinta yang butuh pengorabanan Ilmu pun harus dengan uang dan sangat butuh pengorbanan. Hal ini menyerang kantong keluargaku yang bersikap apatis terhadapku karena menjadi kisah dari sepenggal kata “uang” dan menjadi rumus dari angka-angka seratus, seribu bahkan gopek. Aku harus membangun negeriku kembali dengan potensi-potensi.
Nama : Munadhiratul Lailiyah
NIM : 07110032
Jur/ smt/ kls : BSA/ V/ A
Mata kuliah : Nadhariyat Terjemah Ammah
Dosen Pengampu : Bapak Khairon Nahdiyyin
Terjemahan…
1. Sejak tahun lalu, ayahku menjadi pegawai negeri. Dia menikah dan mempunyai seorang anak. Diantara kedua anak perempuan dan dua anak laki-lakinya salah satunya adalah saya. Belum genap dua tahun, ibuku meninggal dunia. Setelah periode meninggalnya ibuku, ayahku menikah lagi dengan Ibu Roifiyah dan dalam jangka lima tahun dia dikaruniai lima anak perempuan. Seperti inilah kehidupan yang aku dapatkan di mana aku sampai pada titik bengek kehidupan, yang satu masih kanak-kanak dan sembilan remaja. Dan dalam sepuluh orang, masing-masing keluargaku dijadikan satu kehidupan dalam ruang lingkup kecil yang hanya terdiri dari dua ruang kamar.
2. Seperti biasanya seluruh keluarga berkumpul setelah datangnya saat berbuka di tempat ruang “duduk” dan radio adalah media penyampaian musik-musik hidangan mereka. Ayah dengan pakaian jubah putihnya yang kebesaran, di atas kepalanya tidak terlepas dari kopyah ringannya kecuali ia telah mengganti tempatnya dengan topi tarbus… dia duduk di atas arikah “istanbul”, ia letakkan betisnya di atas istanbul sambil menggerakkan salah satu kedua siku-sikunya, di antara kedua tangannya terdapat sebuah koran “ahram” yang telah ia tangguhkan dari belakang kacamata emasnya. Ia kembali membaca makalah sebagaimana ia membaca ke halaman berikutnya dengan buku kumpulan syair-syair, di depannya terdapat hidangan yang sederhana yaitu secangkir the manis, sisa dalam ngarai tersebut adalah sebagian endapan yang hitam.
Padanan kata…
1.
ü أنجب termasuk kata yang tidak memiliki supordinat, karena ia tak memiliki arti yang sesungguhnya dalam dunia gramatikalnya. Hanya diartikan sesuai dengan siyakul kalamnya saja.
ü سن الصبا kalimat ini bisa di kategorikan sebagai Bahasa target yang tidak memiliki supordinat, karena hal tersebut juga tidak mempunyai arti yang sebenarnya dalam dunia kamus.
ü شقّة termasuk Konsep budaya yang Unik. Yang mana kalimat tersebut di artiakan sebagai keyakinan orang-orang arab dalam memaknai kalimat tersebut. Karena mayoritas orang non Arab tidak memahami makna tersebut.
2.
ü حجرة kata yang jauh lebih netral atau kurang ekpresif, karena makna tersebut lebih netral di artikan sebagai kamar, sedangkan makna di atas di artikan sebagai ruang makan/ ruang duduk.
ü الراديو diterjemahkan dengan kata yang lebih umum (supordinat, dan kalimat ini di kategorikan sebagai bahasa target. Karena makna kata tersebut dalam bahasa indonesia juga di sebut dengan radio.
ü الد وان mempunyai dua makna dalam arti Indonesianya. Dalam indonesia bisa di artikan sebagai dewan, sedangkan dalam bahasa arabnya juga bisa di artikan sebagai orang yang ahli ilmu sastra. Dan hal ini di kategorikan sebagai terjemah budaya.
Editing 1
UAS editing aku dapet A/B. Kq aku bisa dpet nilai segitu ya?padahal, aku sudah berusaha dengan sekuat tenaga ma tugas editing..
“ ini adalah pertama kalinya aku ceritakan Abdul majid, pamanku.”, sambungnya.
Aku menyela: “dan kamu pasti akan mengejeknya kan?”
Dia bertanya padaku sambil marah: “siapa yang mau mengejek?”
“kamu paman… Bukankah kamu sudah tahu seberapa besar ejekanmu itu menyiksa perasaanku?... Tidakkah kamu tahu maksudku sketsa indah tentang pamanku itu yang ceritanya aku belokkan dan aku tuangkan imajinasiku?”
“kisahku yang kamu torehkan dengan dengan semua kebohonganmu itu?... Tahukah kamu seberapa banyak perbuatanmu menyiksaku?”
Aku perhatikan wajahnya dengan teliti.
-:(60):-
Wajahnya terlihat sangat kriput, sekalipun tak kan jauh berbeda ceritanya dari dulu hingga sekarag… Lelaki yang tampan itu mempunyai cerita yang bagus suatu cerita yang dikisahkannya padaku. Tapi apakah semua cerita itu memang harus menyakiti perasaanku?
Paman Kamal berbicara keras: “pamanmu Abdul Majid telah membuat kakekmu terkagum-kagum untuk kali pertama. Namun, kekaguman itu berubah menjadi siksaan yang menyakitkan, dan kakekmu benar…
“benar menurut siapa?”
Paman Kamal mengajariku: “saat aku bercerita kamu harus tutup mulut! Inikah cara barumu untuk merusak ceritaku?”
Ketika aku berjanji akan tutup mulut, ia bercerita. “pamanmu Abdul Majid lahir dalam lingkup yang sederhana sebelum pindah ke kota. Dia hidup di antara pohon kurma, tetumbuhan dan sungai kecil. Hobinya memburu ular, tupai dan landak. Semua hal ini diketahui kakek. Tapi ada satu hal yang tak diketahunya, yaitu bagaimana ia tahu kontruksi bangunan . Inilah yang membuat kakek kagum, sekaligus membuatnya dihukum kelak.
Kakek bertanya pada nenek saat tiba-tiba dia ingat akan anaknya Abdul Majid, dan berkata: “dari mana anak kita Abdul Majid tahu kontruksi rumah?... Aku bahkan tidak ingat kalau rumah kita terbuat dari kaca.”
-:(61):-
Perkataan kakek terputus karena marah. Nenek tidak bisa menahan amarahnya. Dia juga tidak tahu dari dan kapan anaknya mempelajari kontruksi rumah. Pamanmu tidak mempedulikan orang tuanya yang sering marah. Dia tetap yakin kalau dia yang membangun arsiteknya… dan mempunyai bakat menjadi arsitektur yang hebat dan memasukkan banyak sentuhan seni dalam membangun rumah. Dan seperti inilah saat dia menjadi guru di bidang bangunan, banyak kuli bekerja di bawah pengawasannya. Menuruti semua perintahnya, membuat masyarakat berdecak kagum… interior rumah sudah diubahnya… perlahan dan tampak semakin indah… diatasnya terlihat ukiran. Dan ukiran yang mana itu? Ukiran yang dari batu.
Paman Kamal berhenti lalu bertanya: “ketika pamanmu Abdul Majid sudah terkenal karena kemampuannya ini, tahukah kamu apa yang kakekmu rasakan?”
“apa yang terjadi?”, tanyaku.
“kuatir.”
“kuatir?”, tanyaku lagi.
Paman Kamal menjawab mempertegas: “Ya, kuatir.”
“kenapa”
-:(62):-
Kakek selalu marah dan mempertanyakan: “semua anakku bodoh seperti keledai. Lalu dari mana kemampuan itu datang?”
“paman, kamu sudah mencemooh pamanku!” sergahku.
Paman Kamal malah berkilah: “bukan aku yang mengatakan itu, tapi kekekmu.”
Kemudian dia meneruskan ceritanya setelah sejenak berdebat: “ yang pasti kakekmu semakin tersiksa melihat anaknya kian terkenal karena keahliannya. Saking terkenalnya, dia sampai dijuluki al astha, si pakar bangunan. Selam sepuluh tahun sudah banyak kontruksi, interior dan jendela yang berubah di tangan sang pakar bangunan dan kelompoknya. Yang benerja dalam membentuk berbagai macam bangunan untuk memulainya.
Untuk sekian kalinya, paman berhenti. Aku merasa dia akan bercerita tentang sisi yang lainnya namun tetap saja dengan sisi cerita sebelumnya, yaitu menceritakan sisi kejelekan paman Abdul Majid. Sejenak, aku berharap dia berhenti cerita sampai di sini. Tapi keinginanku kandas di depan kerasnya hati paman Kamal yang ingin menyempurnakan cerita hingga selesai.
Dia mulai lagi: “apakah pamanmu Abdul Majid bahagia dengan populernya? Tak seorang pun tahu bagaimana kesedihan tiba-tiba menghantuinya. Dia menolak banyak permintaan untuk membangun rumah. Dia bekerja di tempat warung kopi langganan para kuli bangunan… dia hanya terdiam di rumah… hanya merokok dan merokok… atau bergulingan di ranjang tanpa memejamkan mata. Dia menghembuskan nafas panjang. Nafasnya terasa
-:(63):-
Panas membuat istri dan ibunya kuatir. Lalu nenek menyampaikan hal itu pada kakek.
”Abdul Majid sedang gelisah... kamu tahu apa gerangan yang menyiksanya?”, tanya nenek.
”Aku?”
Nenek mendesak kakek untuk menjawab pertanyaannya: ”kamu bapaknya. Kamu sangat memahaminya”
Kakek menjawab: ”jika dia seperti anakku yang lainnya, aku pasti mengerti... tapi aku?... bagaimana aku bisa memahami orang yang kerjanya hanya membuat tembok sangat tinggi?”
Lalu nenek meminta semua anaknya untuk mendesak kakek agar menemui Abdul Majid. Usaha nenek pun berbuah hasil. Sorenya, kekek pergi ke rumah Abdul Majid. Berselang satu jam kakek pulang dengan muka masam. Nenek bertanya dan dijawab dengan jengkel: ”aku harus membawa tongkat!”
Mendengar jawaban itu sontak nenek berteriak: ”cukup! Jangan kau lakukan! Dia bukan lagi anak kecil yang pantas kau pukul dengan tongkat.”
Kakek balas mengancam: ”jika tadi aku membawa tongkatku, sudah pasti aku telah memukulnya dengan sekali pukulan dan tak akan pernah dilupakannya.”
-:(64):-
Akhirnya nenek bertanya: ”kamu sudah tahu apa gerangan yang telah membuatnya tersiksa?”
”langit-langit”
”Apa?”
”aku ulangi, langit-langit”, tegas kakek dengan jengkel.
”Langit-langit yang mana?”
” jikalau aku tahu atap yang mana, pasti kamu sudah kubuat lega. Dia memikirkan hal itu sejak saat dia mengganti langt-l;angit rumah, yang semula berasal dari kayu dan tanah digantinya dengan bahan tenmbok itu?”
Kakek menanggapi: ” sudah kutanyakan itu. Dia menjawab langit-langit dari kaca”
Muncul suara lantang mereka dengan silih berganti: ”Atap dari kaca”
-:(65):-
Kakek meyakinkan khalayak: ”benar. Tapi saat ku tanya bagaimana caranya memasang kaca tersebut di atas, di antara dua dinding, dia memberitahuku inilah rahasia yang membuatnya tersiksa.”
”anakmu sudah gila”, kata nenek.
Kakek berkilah: ” bukan cuma gila. Dia benar-benar bodoh, sanagat mirip dengan keledai… dia bisa meruntuhkan rumah dan jatuh menimpa kepala penghuninya. Jika dia membuat langit-langit seperti ini. Hanya orang bodoh mana yang akan tidur di bawah langit-langit kaca terpasang di udara?”
Beberapa waktu kemudian, Abdul Majid belum terbebas dari siksaan yang menggerogoti jiwanya. Dia adalah petarung yang keras kepala dan mempunyai pikiran membangun. Tiba-tiba ia memutuskan pergi ke Bagdad. Inilah yang nantinya akan menyelesaikan masalahnya. Dia pergi meninggalkan anak, istri, saudara-saudaranya di tengah-tengah keheranan kakek dan nenek. Dia menghilang sebulan penuh. Semua orang gelisah. Hanya kakek yang menanggapinya dengan marah: ” kenapa aku harus diuji melalui semua anak-anakku? Apakah karena langit-langit itu Abdul Majid meninggalkan anak, istri dan keluarganya?”
Hatiku perih, perihnya seperti mengalir memenuhi bagian dalam hatiku. Paman Kamal tidak memberiku waktu sedikitpun untuk menyela ceritanya.
-:(66):-
Dia terus bercerita: ”tersebarlah berita itu di telinga tetangga. Di mata mereka kabar itu sudah tak asing lagi. Mereka tahu betul kalau perbuatan semua pamanmu layaknya orang gila. Akan tetapi, daerah kota mengabarkan bahwa atap ini bermacam-macam sesuatu yang tak satu orang pun mampu mengungkap atau batasannya. Konon Abdul Wahid Askafy bertanya pada Imam Masjid An Najarin setelah selesai shalat jum’at. Dia ditanya tentang langit-langit seperti itu adalah perbuatan sesat…”
”paman...”, aku tak bisa tinggal diam.
”jangan berteriak! Jangan menyelaku lagi! Agar aku tidak ruwet dalam bercerita. Itu pertanyaan Abdul Wahid Al Askafy. Imam mesjid itu kebingungan sehingga dia menjawab ’aku tidak tahu’.”
Menurut cerita juga, pertanyaan itu sangat membebani Al Askafy. Malah sore harinya orang-orang melihatnya dengan tertegun lesu di depan pintu rumahnya. Meski semua orang tahu apa yang sedang dihadapinya, tapi mereka membicarakannya dengan bisik-bisikan.
Aku bertanya: ”siapa yang membuatnya seperti itu?”
”paman-pamanmu”, jawab paman singkat.
”bagaimana kamu bisa tahu?”
”semua orang tahu pembunuh macam apa paman-pamanmu itu. Mereka semua perampok. Tiada ampun bagi siapapun yang berbuat jelek pada mereka
-:(67):-
Dan Askafy melakukan hal bodoh itu.”
Seperti biasa Paman Kamal menghentikan ceritanya. Kejelekan keluarga ibuku yang mana lagi, yang akan diungkapnya setelah ini?...
Sambil memalingkan mukanya dia berkata: ”ketika Pamanmu Abdul Majid kembali, orang-orang hampir saja mengangkat dan menenggelamkan rumahnya ke lokasi lain.”
Kali ini aku minta ijinnya dulu: ”bolehkah aku menyelanhya?”.
Dijawabnya: ”tidak!... kamu cukup mendengarkan saja. Ketika terjadi pertentangan antara bapak dan anak, semua tetangga jauh ataupun dekat, menganggap bapaknyalah yang benar. Karena semua orang cenderung memihak kakeknya meskipun dia membuang semua buku petunjuk yang dibawa anaknya dari Bagdad. Yang ada dalam pikiran kakek hanya kemarahan yang seperti gunung berapi, tekanan, dan langit-langit kaca... dengan tenang dia berkata: ”apakah kamu sudah menemukannya?”
”langit-langit kaca?”, tanyanya.
Dengan pura-pura tenang, kakek bertanya lagi: ”sudah ada yang membuatnya?”
Terlihat kekuatan di wajah Paman Abdul Majid untuk berkata: ”benar”
Lalu ketiga belas pamanmu itu menjatuhkan diri di depan kakek,
-:(68):-
Agar kakek tetap duduk di tempatnya paling tidak agar dia tidak sampai pada tongkatnya...
”apakah aku punya hak untuk menyela?”, kataku lagi.
Paman membela berkelit: ”aku tidak mencemooh kakekmu atau siapapun. Cerita yang aku sampaikan ini kenyataan. Aku bukan pembohong sepertimu yang merusak semua ceritaku.”
”Ya tuhan yang maha penyayang... ulangi lagi?”, sindirku.
”Apakah kamu merasa sakit seperti apa yang bisa ditimbulkan oleh permainan kata?... ketika pamanmu Abdul Majid berkata di depan semua orang: ”Aku akan membangun langit-langit rumahku dari kaca.”
Kakek menggeram di tengah-tengah anaknya: ”jangan kau bunuh cucu-cucuku!”
Esoknya, sejak pagi buta
-:(70):-
Beberapa pekerja sudah datang. Mereka datang sambil membawa kaca dan lempengan besi panjang. Langit-langit diangkat sehingga rumah rumah tidak ada penutupnya. Hanya dua kamar yang tersisa. Lempengan besi panjang diletakkan dengan jarak berdekatan. Lalu diletakkan kaca dan batu kapur. Setelah pekerjaannya selesai, pamanmu berkata: ”aku akan tidur di bawahnya”.
Bibimu meneyuruh semua anaknya pindah ke rumah kakek, hanya tinggal mereka berdua di sana dan tetap terjaga sampai pagi. Pagi harinya kakek, nenek, saudara-saudaranya dan semua anak-cucunya berdatangan. Dia meminta semua naik ke atas. Abdul Majid naik lebih dulu dan loncat di atas atap kaca tersebut diikuti istrinya dan akhirnya semua orang melakukannya. Kakekpun berkata: ”buatkan langit-langit rumahku dari kaca... dan nanti kalau musim hujan kembalikan seperti semula”
Semua tetangganya, kaya, menengah atau miskin sekalipun, ikut mengganti langit-langit rumah mereka. Pamanmu Abdul Majid membuat semua orang menghormati pemikirannya. Akan tetapi, waktu tidak menghargainya, bukan mengejek pemikirannya, tapi mngejek ketrampilan tangannya...
”Apakah itu berarti kamu mencaci keluarga ibuku?”
Paman Kamal berkata dengan tenang:
-:(70):-
”Tidak...malah sekarang aku meratapi Pamanmu Abdul Majid sang pembangun. Setelah bertambah usiaku. Tak ada insinyur yang menyamainya. Tetapi dia tidak mengerti kalau seandainya modal pembangunannya itu berasal dari pikiran, bukan di tangan dan matanya...”

