Editing 1
UAS editing aku dapet A/B. Kq aku bisa dpet nilai segitu ya?padahal, aku sudah berusaha dengan sekuat tenaga ma tugas editing..
“ ini adalah pertama kalinya aku ceritakan Abdul majid, pamanku.”, sambungnya.
Aku menyela: “dan kamu pasti akan mengejeknya kan?”
Dia bertanya padaku sambil marah: “siapa yang mau mengejek?”
“kamu paman… Bukankah kamu sudah tahu seberapa besar ejekanmu itu menyiksa perasaanku?... Tidakkah kamu tahu maksudku sketsa indah tentang pamanku itu yang ceritanya aku belokkan dan aku tuangkan imajinasiku?”
“kisahku yang kamu torehkan dengan dengan semua kebohonganmu itu?... Tahukah kamu seberapa banyak perbuatanmu menyiksaku?”
Aku perhatikan wajahnya dengan teliti.
-:(60):-
Wajahnya terlihat sangat kriput, sekalipun tak kan jauh berbeda ceritanya dari dulu hingga sekarag… Lelaki yang tampan itu mempunyai cerita yang bagus suatu cerita yang dikisahkannya padaku. Tapi apakah semua cerita itu memang harus menyakiti perasaanku?
Paman Kamal berbicara keras: “pamanmu Abdul Majid telah membuat kakekmu terkagum-kagum untuk kali pertama. Namun, kekaguman itu berubah menjadi siksaan yang menyakitkan, dan kakekmu benar…
“benar menurut siapa?”
Paman Kamal mengajariku: “saat aku bercerita kamu harus tutup mulut! Inikah cara barumu untuk merusak ceritaku?”
Ketika aku berjanji akan tutup mulut, ia bercerita. “pamanmu Abdul Majid lahir dalam lingkup yang sederhana sebelum pindah ke kota. Dia hidup di antara pohon kurma, tetumbuhan dan sungai kecil. Hobinya memburu ular, tupai dan landak. Semua hal ini diketahui kakek. Tapi ada satu hal yang tak diketahunya, yaitu bagaimana ia tahu kontruksi bangunan . Inilah yang membuat kakek kagum, sekaligus membuatnya dihukum kelak.
Kakek bertanya pada nenek saat tiba-tiba dia ingat akan anaknya Abdul Majid, dan berkata: “dari mana anak kita Abdul Majid tahu kontruksi rumah?... Aku bahkan tidak ingat kalau rumah kita terbuat dari kaca.”
-:(61):-
Perkataan kakek terputus karena marah. Nenek tidak bisa menahan amarahnya. Dia juga tidak tahu dari dan kapan anaknya mempelajari kontruksi rumah. Pamanmu tidak mempedulikan orang tuanya yang sering marah. Dia tetap yakin kalau dia yang membangun arsiteknya… dan mempunyai bakat menjadi arsitektur yang hebat dan memasukkan banyak sentuhan seni dalam membangun rumah. Dan seperti inilah saat dia menjadi guru di bidang bangunan, banyak kuli bekerja di bawah pengawasannya. Menuruti semua perintahnya, membuat masyarakat berdecak kagum… interior rumah sudah diubahnya… perlahan dan tampak semakin indah… diatasnya terlihat ukiran. Dan ukiran yang mana itu? Ukiran yang dari batu.
Paman Kamal berhenti lalu bertanya: “ketika pamanmu Abdul Majid sudah terkenal karena kemampuannya ini, tahukah kamu apa yang kakekmu rasakan?”
“apa yang terjadi?”, tanyaku.
“kuatir.”
“kuatir?”, tanyaku lagi.
Paman Kamal menjawab mempertegas: “Ya, kuatir.”
“kenapa”
-:(62):-
Kakek selalu marah dan mempertanyakan: “semua anakku bodoh seperti keledai. Lalu dari mana kemampuan itu datang?”
“paman, kamu sudah mencemooh pamanku!” sergahku.
Paman Kamal malah berkilah: “bukan aku yang mengatakan itu, tapi kekekmu.”
Kemudian dia meneruskan ceritanya setelah sejenak berdebat: “ yang pasti kakekmu semakin tersiksa melihat anaknya kian terkenal karena keahliannya. Saking terkenalnya, dia sampai dijuluki al astha, si pakar bangunan. Selam sepuluh tahun sudah banyak kontruksi, interior dan jendela yang berubah di tangan sang pakar bangunan dan kelompoknya. Yang benerja dalam membentuk berbagai macam bangunan untuk memulainya.
Untuk sekian kalinya, paman berhenti. Aku merasa dia akan bercerita tentang sisi yang lainnya namun tetap saja dengan sisi cerita sebelumnya, yaitu menceritakan sisi kejelekan paman Abdul Majid. Sejenak, aku berharap dia berhenti cerita sampai di sini. Tapi keinginanku kandas di depan kerasnya hati paman Kamal yang ingin menyempurnakan cerita hingga selesai.
Dia mulai lagi: “apakah pamanmu Abdul Majid bahagia dengan populernya? Tak seorang pun tahu bagaimana kesedihan tiba-tiba menghantuinya. Dia menolak banyak permintaan untuk membangun rumah. Dia bekerja di tempat warung kopi langganan para kuli bangunan… dia hanya terdiam di rumah… hanya merokok dan merokok… atau bergulingan di ranjang tanpa memejamkan mata. Dia menghembuskan nafas panjang. Nafasnya terasa
-:(63):-
Panas membuat istri dan ibunya kuatir. Lalu nenek menyampaikan hal itu pada kakek.
”Abdul Majid sedang gelisah... kamu tahu apa gerangan yang menyiksanya?”, tanya nenek.
”Aku?”
Nenek mendesak kakek untuk menjawab pertanyaannya: ”kamu bapaknya. Kamu sangat memahaminya”
Kakek menjawab: ”jika dia seperti anakku yang lainnya, aku pasti mengerti... tapi aku?... bagaimana aku bisa memahami orang yang kerjanya hanya membuat tembok sangat tinggi?”
Lalu nenek meminta semua anaknya untuk mendesak kakek agar menemui Abdul Majid. Usaha nenek pun berbuah hasil. Sorenya, kekek pergi ke rumah Abdul Majid. Berselang satu jam kakek pulang dengan muka masam. Nenek bertanya dan dijawab dengan jengkel: ”aku harus membawa tongkat!”
Mendengar jawaban itu sontak nenek berteriak: ”cukup! Jangan kau lakukan! Dia bukan lagi anak kecil yang pantas kau pukul dengan tongkat.”
Kakek balas mengancam: ”jika tadi aku membawa tongkatku, sudah pasti aku telah memukulnya dengan sekali pukulan dan tak akan pernah dilupakannya.”
-:(64):-
Akhirnya nenek bertanya: ”kamu sudah tahu apa gerangan yang telah membuatnya tersiksa?”
”langit-langit”
”Apa?”
”aku ulangi, langit-langit”, tegas kakek dengan jengkel.
”Langit-langit yang mana?”
” jikalau aku tahu atap yang mana, pasti kamu sudah kubuat lega. Dia memikirkan hal itu sejak saat dia mengganti langt-l;angit rumah, yang semula berasal dari kayu dan tanah digantinya dengan bahan tenmbok itu?”
Kakek menanggapi: ” sudah kutanyakan itu. Dia menjawab langit-langit dari kaca”
Muncul suara lantang mereka dengan silih berganti: ”Atap dari kaca”
-:(65):-
Kakek meyakinkan khalayak: ”benar. Tapi saat ku tanya bagaimana caranya memasang kaca tersebut di atas, di antara dua dinding, dia memberitahuku inilah rahasia yang membuatnya tersiksa.”
”anakmu sudah gila”, kata nenek.
Kakek berkilah: ” bukan cuma gila. Dia benar-benar bodoh, sanagat mirip dengan keledai… dia bisa meruntuhkan rumah dan jatuh menimpa kepala penghuninya. Jika dia membuat langit-langit seperti ini. Hanya orang bodoh mana yang akan tidur di bawah langit-langit kaca terpasang di udara?”
Beberapa waktu kemudian, Abdul Majid belum terbebas dari siksaan yang menggerogoti jiwanya. Dia adalah petarung yang keras kepala dan mempunyai pikiran membangun. Tiba-tiba ia memutuskan pergi ke Bagdad. Inilah yang nantinya akan menyelesaikan masalahnya. Dia pergi meninggalkan anak, istri, saudara-saudaranya di tengah-tengah keheranan kakek dan nenek. Dia menghilang sebulan penuh. Semua orang gelisah. Hanya kakek yang menanggapinya dengan marah: ” kenapa aku harus diuji melalui semua anak-anakku? Apakah karena langit-langit itu Abdul Majid meninggalkan anak, istri dan keluarganya?”
Hatiku perih, perihnya seperti mengalir memenuhi bagian dalam hatiku. Paman Kamal tidak memberiku waktu sedikitpun untuk menyela ceritanya.
-:(66):-
Dia terus bercerita: ”tersebarlah berita itu di telinga tetangga. Di mata mereka kabar itu sudah tak asing lagi. Mereka tahu betul kalau perbuatan semua pamanmu layaknya orang gila. Akan tetapi, daerah kota mengabarkan bahwa atap ini bermacam-macam sesuatu yang tak satu orang pun mampu mengungkap atau batasannya. Konon Abdul Wahid Askafy bertanya pada Imam Masjid An Najarin setelah selesai shalat jum’at. Dia ditanya tentang langit-langit seperti itu adalah perbuatan sesat…”
”paman...”, aku tak bisa tinggal diam.
”jangan berteriak! Jangan menyelaku lagi! Agar aku tidak ruwet dalam bercerita. Itu pertanyaan Abdul Wahid Al Askafy. Imam mesjid itu kebingungan sehingga dia menjawab ’aku tidak tahu’.”
Menurut cerita juga, pertanyaan itu sangat membebani Al Askafy. Malah sore harinya orang-orang melihatnya dengan tertegun lesu di depan pintu rumahnya. Meski semua orang tahu apa yang sedang dihadapinya, tapi mereka membicarakannya dengan bisik-bisikan.
Aku bertanya: ”siapa yang membuatnya seperti itu?”
”paman-pamanmu”, jawab paman singkat.
”bagaimana kamu bisa tahu?”
”semua orang tahu pembunuh macam apa paman-pamanmu itu. Mereka semua perampok. Tiada ampun bagi siapapun yang berbuat jelek pada mereka
-:(67):-
Dan Askafy melakukan hal bodoh itu.”
Seperti biasa Paman Kamal menghentikan ceritanya. Kejelekan keluarga ibuku yang mana lagi, yang akan diungkapnya setelah ini?...
Sambil memalingkan mukanya dia berkata: ”ketika Pamanmu Abdul Majid kembali, orang-orang hampir saja mengangkat dan menenggelamkan rumahnya ke lokasi lain.”
Kali ini aku minta ijinnya dulu: ”bolehkah aku menyelanhya?”.
Dijawabnya: ”tidak!... kamu cukup mendengarkan saja. Ketika terjadi pertentangan antara bapak dan anak, semua tetangga jauh ataupun dekat, menganggap bapaknyalah yang benar. Karena semua orang cenderung memihak kakeknya meskipun dia membuang semua buku petunjuk yang dibawa anaknya dari Bagdad. Yang ada dalam pikiran kakek hanya kemarahan yang seperti gunung berapi, tekanan, dan langit-langit kaca... dengan tenang dia berkata: ”apakah kamu sudah menemukannya?”
”langit-langit kaca?”, tanyanya.
Dengan pura-pura tenang, kakek bertanya lagi: ”sudah ada yang membuatnya?”
Terlihat kekuatan di wajah Paman Abdul Majid untuk berkata: ”benar”
Lalu ketiga belas pamanmu itu menjatuhkan diri di depan kakek,
-:(68):-
Agar kakek tetap duduk di tempatnya paling tidak agar dia tidak sampai pada tongkatnya...
”apakah aku punya hak untuk menyela?”, kataku lagi.
Paman membela berkelit: ”aku tidak mencemooh kakekmu atau siapapun. Cerita yang aku sampaikan ini kenyataan. Aku bukan pembohong sepertimu yang merusak semua ceritaku.”
”Ya tuhan yang maha penyayang... ulangi lagi?”, sindirku.
”Apakah kamu merasa sakit seperti apa yang bisa ditimbulkan oleh permainan kata?... ketika pamanmu Abdul Majid berkata di depan semua orang: ”Aku akan membangun langit-langit rumahku dari kaca.”
Kakek menggeram di tengah-tengah anaknya: ”jangan kau bunuh cucu-cucuku!”
Esoknya, sejak pagi buta
-:(70):-
Beberapa pekerja sudah datang. Mereka datang sambil membawa kaca dan lempengan besi panjang. Langit-langit diangkat sehingga rumah rumah tidak ada penutupnya. Hanya dua kamar yang tersisa. Lempengan besi panjang diletakkan dengan jarak berdekatan. Lalu diletakkan kaca dan batu kapur. Setelah pekerjaannya selesai, pamanmu berkata: ”aku akan tidur di bawahnya”.
Bibimu meneyuruh semua anaknya pindah ke rumah kakek, hanya tinggal mereka berdua di sana dan tetap terjaga sampai pagi. Pagi harinya kakek, nenek, saudara-saudaranya dan semua anak-cucunya berdatangan. Dia meminta semua naik ke atas. Abdul Majid naik lebih dulu dan loncat di atas atap kaca tersebut diikuti istrinya dan akhirnya semua orang melakukannya. Kakekpun berkata: ”buatkan langit-langit rumahku dari kaca... dan nanti kalau musim hujan kembalikan seperti semula”
Semua tetangganya, kaya, menengah atau miskin sekalipun, ikut mengganti langit-langit rumah mereka. Pamanmu Abdul Majid membuat semua orang menghormati pemikirannya. Akan tetapi, waktu tidak menghargainya, bukan mengejek pemikirannya, tapi mngejek ketrampilan tangannya...
”Apakah itu berarti kamu mencaci keluarga ibuku?”
Paman Kamal berkata dengan tenang:
-:(70):-
”Tidak...malah sekarang aku meratapi Pamanmu Abdul Majid sang pembangun. Setelah bertambah usiaku. Tak ada insinyur yang menyamainya. Tetapi dia tidak mengerti kalau seandainya modal pembangunannya itu berasal dari pikiran, bukan di tangan dan matanya...”


0 komentar:
Posting Komentar