Lelaki Itu
adalah wanita lelakiku
melamar waktu
menyerahkan cincin di tangan langit
foto-foto mesra dipajang di beranda bacaan
air mataku menggenangi sumur yang amat dalam
membuat nafas terengah tanda kecemburuan
mendaki sumur akhirnya menyelam
ini semua adalah dusta yang dipermainkan
malaikat-malaikat mengajakku tenang dan bermain kecapi
namun aku menolaknya
tak akan bermain api
sebelum terbangun dari sepi
tak menyadari
egoismenya tinggi tak tertandingi
mematahkan sayap bidadari selama menemani
jika bertemu nanti
kuserahkan hati:
indah, jagalah lelakiku
jangan engkau terbang tanpa sayap dan rusuk kananmu
apabila rusuk-rusuk yang lain mengajakmu kencan
jagalah lelakiku dan jangan mau
28 Januari 2011
Bintang Dalam Petang
menjelang matahari terbenam
terkikis rindu mengepung dalam dada yang tenang
cucuran air mata berlinang
wajahmu menjelma pada bintang-bintang
gelap menutupi siang
bulang mengiringiku pergi bersama rindu
kupanjatkan waktu langit masih abu-abu
kian hari, kulihat bukit-bukit menjulang semakin tinggi
seperti kerinduan terhempas dalam kelam
angka-angka rindu perhari bertambah
seiring arus hujan turun ke bumi
kupegangi erat mata berbinar itu
sketsa menggambarkan runtuhnya jantung menyayat urat-uratku
rindu terus menerus memberanakkan
dari mata ke hati dan kaki
entah sampai kapan rindu akan berhenti?
27 Januari 2011
Misteri Suara Eropa
Oleh: Muna el Laily
Misteri itu mengetuk hatiku untuk mengatakan Eropa. Suara itu terus menggema mengikuti tiupan angin yang kencang, ruang kamar terpenuhi bahkan semakin jauh suara itu berlari hingga aku mengakui, itu adalah bunyi suaraku. Kucoba mencari arah suara itu, membingar seperti kelam. Suara itu semakin mencuat memaksa dan meminta respon agar aku menelanjangi otak-otak yang retak yang tak berfungsi. Menjulang semakin tinggi seperti gemerincik lonceng yang sedang dibunyikan Jibril kepada Nabi.
Aku lelah mencari bunyi itu. Tetapi suara itu semakin peduli menisbatkan lelucon misteri yang tak sanggup kumenelaahnya. Dunia buram ditertawakan tuhan. Tetes-tetes uang berimbun-rimbun tajam mencekik mimpiku, mimpi yang tak sanggup aku lontar. Tiba-tiba mencekam bumi meneriaki seluruh mimpi dan angan-angan padahal aku sudah tak peduli pada dogma yang diajarkan.
Hamba bingung terhadap sikap manusia yang terkadang meremehkan, mengguncing dan membicarakan hal-hal tak begitu penting dibincangkan, yang akhirnya bermuara pada pertengkaran tanpa persolan dan tujuan. Ingin sekali kujelajahi sunyi agar aku tak duduk dengan orang yang hanya mempunyai secuil pengetahuan, melihat bayangan ilmu hanya dalam mimpi lalu mengkhayalkan diri mereka dalam lingkaran yang benar.
Aku bicara pada sunyi tentang bayang-bayang orang yang menyeretku ke ruang sunyi untuk melafadzkan bahasa Eropa. Namun, sekilas orang itu menyimpang dari bayanganku. Haruskah aku mati bersama raksasa dan misteri-misteri yang tak kufahami? Apakah suara itu bermuasal dari pelosok dunia yang diutus menyampaikan surat-surat yang sarat pengetahuan Eropa? Adakah di sana bencana-bencana yang berhak aku mengitarinya? Perasaanku semakin berkecamuk. Ataukah suara itu akan membunuh jiwaku agar aku terkapar mengubur keindahan. Perasaanku semakin tak tentu dipenuhi dengan hal-hal yang negatif yang akan terjadi pada diriku.
Malam itu, nirwana membawaku menjelma orang Eropa. Bahasaku lancar menjadi berakar-akar seakan-akan aku lahir di tanah Eropa dan dilahirkan di sana. Bahasaku berbeda. Aku fashih menggunakan bahasa-bahasa Eropa. Seperti orang mengigau bahasa Prancis. Aneh memang kurasakan. Aku heran bukan kepalang. Siapa yang menuntunku mengeja lafadz-lafadz itu? Akankah bunyi itu ciptaan Ferdinand De Sausure yang menghasilkan tulisan. Ataukah ia tulisan yang membentuk semiotik bunyi yang terbahasakan atau ia teori pooh-pooh yang keluar dari insting manusia, yang tiba-tiba menjelma kemudian menghilang?.
Dering lonceng semakin keras menderu seperti para Nabi penerima wahyu. Seperti lubang gua yang tertutupi dengan sawang-sawang saat Nabi dikejar sang musuh. Tubuh Nabi bergetar, keringat-keringat berjatuhan. Suara datang entah dari mana? Aku menganalogikan suara itu adalah suara burung hud-hud yang datang kepada Sulaiman saat ia mau melakukan penyerangan terhadap pasukan Balqis. Ratu yang begitu cantik, kata seekor burung hud-hud, yang tak mungkin Sulaiman menyerang pasukan itu. Sulaiman berambisi menyerang dan saat melakukan penyerangan Sulaiman terbuai melihat betis sang ratu yang sangat mulus dan mungkin sangat menarik bagi laki-laki dan ingin mempersuntingnya. Cerita ini membuatku tahu, bahwa musuh manusia yang sangat buas adalah hawa nafsu.
Suara itu memerintah Nabi untuk membacanya.
“bacalah” itu adalah suaranya Jibril yang diutus menyampaikan wahyu
“ apa yang hendak aku baca” jawab Nabi.
“bacalah” Jibril mengulangi kalimat itu berturut-turut hingga tiga kali. Barulah Nabi membacanya dengan terbata-bata sambil membaca lafadz yang dituntun Jibril. Akankah suara yang datang kepadaku suaranya Jibril? Yang meluasi jagad menerjang pupil telinga.
Satu minggu berturut-turut aku seperti orang tak sadarkan diri. Tiba-tiba banyak vocabulary Prancis yang kutahu. Berbahasa Eropa. Terkadang aku ngobrol dengan kertas tak bernyawa, berbicara tentang segalanya. Menulis kemudian menghafal. Ketika aku mulai menulis dengan bahasa Eropa seketika suara keras membahana.
“ Jelajahi dunia dengan bahasa” suara itu berbunyi nyaris aku terdampar ke pelosok dunia akibat bahasa itu. Aku berusaha tak mempedulikan suara itu. Tapi ia terus menghantuiku.
“ Kenapa harus dengan bahasa? Dan kenapa engkau terus membuntutiku?” jawabku seperti orang gila berbicara dengan sendirinya.
“ Renungkan apa yang aku suarakan dan jangan terlalu banyak melamun”.
Dan seperti alam bawah sadar aku terbangun dari lamunanku. Angin malam semakin ganas meniupkan semilirnya ke seluruh badan.
Semuanya mimpi belaka. Otakku tak sepandai dalam dawai-dawai mimpi yang terkenang seperti mekarnya jagung saat panen. Sewaktu biji itu ditanam, ia seperti tak punya harga diri, dicumbui pitik-pitik, dimakan manusia kemudian dilempar ke lorong menjadi saluran dan menggesek hal-hal yang membusuk. Berjalan secara natural sesuai poros yang ditentukan. Dengan biji biji itu manusia bisa bertahan hidup dan menjadi makanan pokok sehari-harinya. Begitu pentingnya jagung yang kadang tak dihargai oleh manusia.
Tujuh hari tujuh malam tidurku terganggu dengan suara-suara itu. Suara yang membuatku punya penyakit insomnia. Ingin aku mengusirnya dari hidupku tapi suara itu sekeras batu bahkan memperbudak hatiku. Kucoba bertanya tentang suara itu pada sekawananku barangkali mereka bisa mengatasi dan mengusir suara itu dari kamarku. Kawanku tak percaya akan hal itu, mereka ngira aku hanya menggombal dan menakut-nakuti semata. Kuajak temanku untuk tidur dikamarku agar kami sama-sama mendengar suara itu. kupancing emosiku dan berteriak, tapi nihil suara itu tak jua datang. Kawanku akhirnya pulang dengan tak memberikan jawaban dan komentar apa-apa. Mungkin saja dia mengira aku sudah gila. Sudah kukumpulkan berbagai macam teori untuk mengusir hantu-hantu itu, hampir menumpuki buku-buku dan kertas-kertas di atas pintu. Suara itu semakin ganas kedengarannya bahkan bertambah ekstrim dari sebelumnya. Ternyata suara itu masih tetap ngotot menghantuiku.
Kamarku sudah tidak perawan lagi ditinggali suara-suara tadi. Ternyata suara itu beranak dan menggenapi angka-angka tunggal. Semua jenis apa dan segala siapa bahkan suara pun bisa beranak kecuali tuhan yang maha tunggal. Tak akan pernah ada tuhan anak, bapak dan bunda, yang ada hanya buat kaum yang mengada-ada. Negara yang kusinggahi negara plural. Segala bentuk jenis tunggal, bapak, bunda dan anak hidup dengan penuh toleran. Tak ada cacian juga ejek-ejekan. Hidup damai dengan bunyi suara yang berbeda. Aneh memang, jika suara itu menggabungkan kabel yang sudah mati dan memberikan energi pada suara-suara yang lain. Ingin aku menguak suara itu dari mana arahnya tapi tak jua kutemukan. Apakah suara itu sudah menjadi takdir atas hidupku? Bahwa aku akan memegahi Eropa dan menjelajahinya dengan dunia mayaku.
Terkadang suara-suara itu indah bagaikan melodi, kadang semrawut bikin pusing kepalaku, kadang menyeramkan membuat bulu kudukku merinding. Tidakkah aku harus melakukan terapi? Jika terus-terusan seperti ini , aku akan gila. Jangan-jangan, aku memang gila? Desis batinku yang sudah balau dengan perasaanku.
Aku datangi seorang ilmuan yang ahli dalam ilmu psikologi. Menurut teorinya, aku tidak gila, pun tidak sedang insomnia.
“ Ambisimu yang membuatmu seperti orang gila” kata seorang ahli psikologi itu dengan muka yang yes buat meyakinkanku bahwa aku tidak apa-apa. Aku lega dengan pernyataan itu. aku semakin penasaran sama suara apa saja yang datang padaku. Aku ingin mencarinya bahkan ingin menjadi ahli tafsir tentang suara.
Hari kedelapan suara itu pergi entah kemana? Bersama siapa? Dengan pasangannya atau sendirian? Aku sudah tidak pernah mendengarnya lagi. Rasa sepiku semakin merundung tak seperti waktu suara-suara itu menggangguku kemarin silam. Suara itu sudah tak ada lagi untukku. Tapi kenapa aku harus bingung? Bukankah aku harus bahagia karena sudah tak ada lagi yang mengusik kehidupanku. Rasa rindu semakin menyayat tubuhku, rindu yang begitu dalam hingga aku semakin tenggelam dengan bayang-bayang.
Air mataku bercucuran menggenangi pipiku. Tiba-tiba saja suara itu datang bersamaan dengan tangisku dan mengajakku ke suatu tempat yang sangat indah tentang prancis.
“ Siapa kau” dengan suaraku agak serak.
“ Aku adalah suara dari suara yang engkau rindu” jawabnya.
“ Mau dibawa kemana aku” tanyaku masih bingung.
“ Jalanlah bersamaku, ikuti perintahku. Engkau akan aku bawa ketempat di mana engkau sedang bermimpi” jawabnya.
“ Tidak, aku tidak akan mengikuti perintahmu karena engkau tak pernah tampak dihadapanku secara nyata” jawabku agak emosi.
“ Tak usahlah engkau mencariku dan dari mana asal usulku cukup engkau mengikuti perintahku dan mendengarkan segala apa yang kukatakan” begitu suara itu memberi petuah dan tatap menyeretku untuk pergi ke suatu tempat. Aku pun masih terlibat perdebatan dengan suara itu dan akhirnya aku mau.
Suara itu pun berkata:
“ Aku adalah jiwamu dan jiwamu adalah aku. Aku dan suara hatimu bersatu dan akan selalu mengikuti gerak gerikmu pada setiap apa yang engkau inginkan karena aku begitu erat dengan tubuhmu” membisikkan pada telingaku dengan suara lirih.
“ Anakku, bangun. Jangan selalu tenggelam dengan lamunan dan bayang-bayangmu. Segeralah bangun dari setiap mimpimu dan capailah dengan usaha” dengan nyerocos seperti seorang Da’i ibuku memberi petuah. Sebab ibulah yang memberiku segumpal darahnya untuk terus maju dan bercita-cita.
Aku pun tersadar dengan imajinasi-imajinasiku dan segera pergi mengecek kotak pos didepan rumahku, barangkali ada sebungkus surat untukku. Tetapi Ibuku lebih cepat mengecek surat-surat itu dan segera memberikannya kepadaku.
“ Ini ada surat untukmu” pagi-pagi sekali pak pos datang mengantarkannya. Kata ibuku.
“ Terimakasih, Bu” Sahutku.
Lalu, segera kubuka amplop yang berwarna coklat itu dan segera kubaca isinya. Dengan wajah terkejut sekaligus terharu bahwa mimpi-mimpiku tidak semu. Ini benar-benar nyata. Segera kukasih amplop itu pada ibuku. Dengan wajah berbinar ibuku mencium keningku sambil menetaskan airmatanya tanda terharu dan bangga mempunyai anak sepertiku.
Ternyata, Masih Ada Harapan dan Impian
Oleh: Muna el Laily
Aku orang yang punya impian menuntut ilmu hingga ke luar negeri, aku orang biasa, tidak pintar, tapi aku mempunyai banyak kemampuan. Itu kata teman-temanku. Aku seorang sastrawan yang masih dalam proses, karya-karyaku sering ada di media. Hanya satu yang tak mampu kupunya, yaitu membaca kitab dengan maknanya, padahal aku jurusannya bahasa dan sastra Arab. Atomatis aku dituntut bisa membaca kitab kuning, lagi-lagi aku gagal. Aku pernah mencoba mengikuti lomba baca kitab, juara tak jadi milikku. Akhirnya aku menggerutu dalam hati bahwa masih ada orang yang lebih pintar. Aku tak kuasa menahan emosi, telingaku panas, akhirnya aku terus menerus belajar Nahwu dan Sharaf pada sekawanan yang kuanggap mampu dalam bidang ilmu nahwu dan Sharaf. Meski proses demi proses aku jalani, ilmu itu tak jua melekat dalam hatiku. Tapi tak apalah aku mengalami kegagalan, Dalam buku Zero to Hero dijelaskan karangan Solikhin Abu Izzuddin terbitan pro-U. Sebenarnya orang yang takut melangkah karena takut salah dialah yang gagal.. Akhirnya aku menekuni dunia jurnalistik dengan rubrik sastra. Disitulah khasku bisa disalurkan. Impianku, ingin mengembangkan ilmu dengan metode idealis yaitu menyampaikan ilmu lewat karya-karya dan menjadi duta penerjemah.
Hari ini, aku sudah semester tujuh, aku mensugesti hatiku dengan tekad S2 ke luar negeri atau Arab Saudi yang kuimpikan, agar Bahasa Arabku bisa berkembang. Aku anak dari orang tua yang ekonominya dibawah standart, bapakku adalah seorang sales rokok yang hasil uangnya dipakai untuk bayar SPP kuliahku. Matahari yang terik dan jalan-jalan sesak penuh asap polusi memakan badannya yang semakin membuatnya sakit berkepanjangan. Ibuku adalah seorang penjual gorengan di sekolahan SD. Itupun masih kurang untuk biaya makan keluargaku. Cita-citaku membahagiakan orang tuaku kelak dengan kesuksesan yang kucari. Untuk ayah dan bunda, aku minta restumu lewat suara tulisanku. Mudah-mudahan aku disukseskan dalam segala hal.
Tiap kali aku pulang kampung, aku selalu terlibat dalam perbincangan sederhana, rumahku tidak mewah, hanya berlandaskan gubuk yang sudah reot. Bapakku sangat konsisten menanyakan hal-hal baru selama aku merantau ke negeri orang demi menuntut ilmu. Lalu kuceritakan kehidupanku lewat tulisan hingga kesulitan menangkap sebuah kajian sederhana dari ilmu-ilmu yang kucari. Aku menyembunyikan penderitaanku selama merantau ilmu, mulai dari kesusahan makan, menelan ludah akibat sudah kelaparan. Aku hanya tersenyum saja pada orang tuaku bahwa aku baik-baik saja. Karna aku tak mau membebani mereka tapi aku masih sering membebani.
Pernah suatu ketika waktu aku menginjak SMA, aku adalah anak pesantren, tiap minggu aku dikirim, tapi hanya sebuah makanan jagung yang dimekarkan dari api-api rerongsokan untuk mempersamakan aku dengan teman-teman. Aku mensyukurinya, Aku melihat peluh ibuku berderaian. Aku tak tega melihatnya dan aku pun berikrar. “ibuku, mudah-mudahan ilmu yang ku dapat lebih banyak dari deraian peluhmu”. Ibuku menangis kala itu, akupun menangis jua. Hingga sampai detik ini aku menginjakkan kaki di jogja. Aku mengenal filosofi dari sikap ibuku. Di tiap pertengahan malam, disaat semua orang lelap ibuku berdoa. “Semoga ilmu yang ku dapat bermanfaat untuk bekal kelak di akhirat dan sangu di dunia yang saat ini kupijakkan”. Rasanya sangat indah sekali mempunyai orang tua yang semangat menuntunku untuk menuntut ilmu. Dan aku tak henti-hentinya bersyukur.
Detik semesteran, uangku sekarat. Aku dibimbangkan dengan banyak persoalan. Hingga pada akhir pendafataran aku belum juga menemukan pinjaman uang. Sedangkan orang tuaku di rumah juga mencari ke sana kemari dan bapakku sedang dirawat di rumah sakit, sakitnya komplikasi, mungkin bapak sangat kecapean tiap hari bekerja menghirup angin. Karna pekerjaan seorang sales memang membutuhkan tenaga yang cukup untuk berkeliling mencari pelanggan rokok. Aku lemah saat itu, tak mungkin aku membebankan orang tuaku dengan merengek agar SPPku segera dilunasi. Aku sudah berfikir cuti. Tak ada biaya untuk dibayarkan. Aku coba menghubungi seluruh sekawananku, tak ada yang membantu. Bukan mereka tak mau membantu hanya saja ia juga butuh untuk pembayaran. Akhirnya aku berdoa di lobi kampus sambil berdoa dan menangis kepada tuhan agar aku diberi kesabaran dan ketabahan menghadapi semuanya. Aku yakin, pasti tuhan menolongku. Akhirnya, aku menghubungi salah satu dosenku yang mengerti dengan keadaan ekonomiku. Dia akhirnya membantu separo dari apa yang harus dibayar, separonya lagi aku pinjam sama teman-temanku.
Pasca pembayaran SPP, aku harus berfikir lagi bagaimana cara melunasi hutang-hutangku. Akupun sudah ditagi-tagih sama teman-teman agar segera melunasinya. Jika aku tak melunasi hutang detik itu, dia tak akan lagi menganggapku teman. Beda dengan dosenku, dia memberiku keringanan, “kapan saja aku mau, jika ada uang. Tak apa kau bayar”. Begitu katanya, aku merasa lega karena bebanku tambah berkurang. “Aku kadang berfikir lucu dengan kehidupan, kenapa kadang ia kejam menarikku kesana-kemari, mulut berbusa dengan basa-basi dan mengisi pertengkaran edan yang tanpa persoalan”. Mengutip puisi WS. Rendra. aku senang mendengarkan sajaknya untuk sekadar menenangkan pikiranku dari segelumitnya persoalan.
Dari persoalan hutang hingga tak makan, tak ada uang untuk biaya hidup. Ditagih teman hingga mau memusuhiku, nestapa hati ini. Andai aku anak pejabat tinggi yang kerjanya hanya mondar-mandir sudah dapat uang, tapi jika kupikir, anak pejabat hanyalah pengusaha memakan rakyat miskin seperti aku. Mending aku jadi orang biasa saja menikmati kehidupan. Sedih, tawa, canda aku nikmati karna aku hidup di dunia ini hanyalah titipan. Sebenarnya aku tak miskin karena aku masih punya ilmu. Orang miskin yang sebenarnya adalah orang-orang yang tak mau berjuang dengan kemiskinannya untuk mencapai hakikat dan kepentingan jiwa.
Nabi Yusuf menderita sewaktu ia hidup, ia dimusuhi saudaranya hingga ia dicebur ke dalam sumur yang sangat dalam. Sangatlah tidak etis bagi Yusuf jika ia di istimewakan oleh tuhan, karna tuhan memanggilnya untuk menjadi pemimpin kerajaan. Ketika Nabi Ya’kub dengan si Nabi Yusuf berbincang-bincang bahwa baru saja ia bermimpi bintang-bintang yang berkilau menyembah dirinya. Perbincangan itu didengar oleh ibunya dan akhirnya diberitahukan pada saudara tirinya. Namanya Rubil, Rubilpun bersikeras ingin membunuh Yusuf dengan cara menceburkan Yusuf ke dalam sumur.
Suatu ketika, Nabi Ya’kub duduk-duduk santai di rumahnya, Rubil meminta izin pada nabi Ya’kub bahwa ia ingin sekali mengajak Nabi Yusuf berburu. Beliaupun mengizinkannya, ketika sudah sampai di hutan, Rubil melihat ada sumur dan ia berhasil menangkap Yusuf untuk di cebur ke sumur. Yusuf coba berusaha meminta tolong hingga menjerit-jerit tak ada satu orang pun yang menolongnya. Saudara-saudaranyapun tak menghiraukannya dan meningglkan Yusuf. Mereka pun pulang ke rumahnya dengan tidak membawa Yusuf. Nabi Ya’kub menanyakan “dimana anakku, Yusuf?”. Dengan tidak berdosanya, saudara-saudara Yusuf mengatakan bahwa Yusuf dimakan singa saat berburu tadi.
Nabi Yusuf berusaha ingin keluar dari dalam sumur itu, keinginannya untuk keluar dari sumur sangat ia dambakan. Ia meminta pertolongan tuhan agar segera dikeluarkan dari penderitaannya. Tapi nabi Yusuf cukup menikmati kesengsaraan itu, akhirnya suatu ketika tuhan mendatangkan seseorang yang sangat kehausan untuk mengisi tenggorokannya yang kering. Dia pun pergi ke sumur tempat Nabi Yusuf singgah, ketika ia menarik benda yang hendak ia tarik ke atas, tiba-tiba Nabi Yusuflah yang ketarik pada benda itu. Alangkah terkejutnya orang itu, saat melihat seorang ke angkut dari dalam sumur. Nabi Yusufpun dibawa ke istan kerajaan, dan menjadi raja disitu.
Sebelum ia menjabat sebagai raja, ia menghadapi segala cobaan yang cukup besar. Ia digoda para cewek-cewek karna terkagum-kagum dengan pesona ketampanannya. Namanya begitu familiar kita dengar yaitu Zulaikha. Ketika Zulaikha mencoba merayu dan menggoda Nabi Yusuf yang bukan muhrimnya, Nabi Yusufpun berusaha menghindari rayuan maut perempuan itu. hingga pada saat ia mencoba kabur, Zulaikha menarik baju belakangnya hingga bajunya Nabi Yusuf sobek. Semua orang tertegun, dan menyangka nabi Yusuf tengah merayu istrinya raja. Zulaikha pun menyalahi Yusuf. Pada akhirnya tuhan mendatangkan seorang bayi mungil yang baru lahir mengatakan bahwa bukan Yusuflah yang berusaha merayu tapi Zulaikha. Semua orang terkejut melihat pengakuan bayi mungil yang sudah bisa bicara.
Dari keajaiban yang diberikan tuhan untuk Nabi Yusuf, akupun juga meyakini, bahwa tuhan melihat usaha dan do’aku. Tiap doa kupanjatkan, aku ingin membuat orang tuaku bahagia dengan ilmu yang kupunya. Untuk bulan ini, tak mungkin minta kiriman orang tua, karna kondisi ekonomi orang tuaku saat ini sangat menyekek keluargaku. Masih ditambah dengan biaya inap bapakku. Akupun mencari informasi di kampus-kampus, barangkali ada lomba menulis karya lainnya, dan aku melihat info meresensi buku, tapi lagi-lagi aku selalu gagal.
Uang yang dijanjikan pada temanku tak jua aku kembalikan, pikirku, dengan aku menulis, maka aku akan mendapat uang dan bisa melunasi semua hutang-hutangku, agar ilmuku juga tersalurkan dan bermanfaat bagi semua orang dengan cara menulis. Aku melihat brosur di papan pengumuman bahwa ada penyaluran bakat anak Indonesia melalui karyanya yang diadakan oleh Bali Literary Award. Aku mengikuti lomba karya tulis cerpen itu, tapi lagi-lagi aku gagal. Sudah beberapa lomba aku ikuti, semuanya gagal. Aku terus tidak patah arang, Aku mencari informasi tentang kerjaan, barangkali aku bisa diterima dengan kerja menjadi penjaga toko buku. Dan aku pun diterima bekerja di situ tapi gaji kerjaku tidak sebanding dengan hutang-hutangku dan biaya inap bapakku.
Namun, ketika semua akan berakhir, semua yang ada berawal dari sebuah penderitaan. Aku ditawarkan menjadi seorang pengajar tetap di sebuah lembaga dan gajianku lumayan untuk sekadar makan. Tuhan mendengar doaku, ia tak pernah tidur untuk melihat ciptaannya berdoa. Bulan dan jalan setapak senjaku akhirnya terang yang berihwal dengan dengan ketidak validan dan kelam. Dengan begini aku bisa menikmati ilmu yang kupunya selama memperjuangkannya bertahun-tahun dengan rasa yang cukup nelangsa. Tapi perjalananku mencari ilmu tidak hanya sampai di sini, dengan diterimanya aku sebagai pengajar tetap. Itu artinya aku masih punya peluang untuk melanjutkan S2 ke luar Negeri.
Kisah ini untuk diikutsertakan dalam Lomba Kisah Menggugah Pro-U Media 2010 di http://proumedia.blogspot.com/2010/10/lomba-kisah-pendek-menggugah-pro-u.html

