علم الدلا له
(Ilmu Semantik)
قد حدّثوا عن شا عر نابغ مجوّد الشّعر شريف المقال
ثم يعشق الغيد لكنّه هام ببكر من بنات الخيال
صورة حسن صا عها لبّه وحدها فى الحسن حدّالكمال
فصار كالطفل رأى بارقا هاج له أطماعه فى المحال
يمدد نحوالنجم كفاله ويحسب النجم قريبب المنال
فأينما سار تراءت له كما ترى خادعا لمع أل
فسار يقفوإثراها ئما والمهتدي با لوهم جم الضلال
وهم ان يمسكها جاهدا بين درايمه بأ يد عجال
ما زال يصدّ وجهده نحوها حتى هوى من فوق تلك التلال
فر حمة الله على شاعر مات قتيلا للأ مانى الطوالب
(Ilmu Semantik)
قد حدّثوا عن شا عر نابغ مجوّد الشّعر شريف المقال
ثم يعشق الغيد لكنّه هام ببكر من بنات الخيال
صورة حسن صا عها لبّه وحدها فى الحسن حدّالكمال
فصار كالطفل رأى بارقا هاج له أطماعه فى المحال
يمدد نحوالنجم كفاله ويحسب النجم قريبب المنال
فأينما سار تراءت له كما ترى خادعا لمع أل
فسار يقفوإثراها ئما والمهتدي با لوهم جم الضلال
وهم ان يمسكها جاهدا بين درايمه بأ يد عجال
ما زال يصدّ وجهده نحوها حتى هوى من فوق تلك التلال
فر حمة الله على شاعر مات قتيلا للأ مانى الطوالب
Syair diatas terdapat beberapa majaz , jinas dan isti’arah yang akan saya uraikan sebagai berikut. Diantaranya:
Paragraf satu, dua dan tiga termasuk kalimat kabari dan menggunakan majaz isti’arah karena dalam paragraf itu mengisahkan tentang seoarang penyair yang menggebu-gebu dengan angan-angannya untuk menjadi seorang penyair yang handal, hingga ia akan menikahi seoarng perawan, akan tetapi perawan yang ia maksud bukan manusia melainkan banatul khayal yaitu dunia imajinasi yang disebut dengan puisi. Bukan pula seorang wanita yang cantik, tapi puisi yang bisa mengantarkan jiwanya dalam keindahan yang menyentuh kehidupannya. Kemudian punulis mempunyai asumsi terhadap pemaknaan syair di atas, bahwa cinta bisa menggubah duri menjadi mawar, seluruh manusia membutuh cinta, karena ia ada tanpa di undang, indah saat mengenang layaknya orang gila yang mulai gandrung akan kecintaan terhadap yang discintai.
Kemudian cerita diatas diperkuat dengan tasqisy (personifikasinya). Pada paragraf empat, lima, enam, tujuh menyatakatan seorang penyair seperti anak-anak yang mulai asyik dengan mainannya layaknya baru melihat dunia, hingga ia mengira bahwa bintang mudah digapai seperti cita-cita yang ukir sejak masa kanak-kanak dan berusaha menggapainya dengan sungguh-sungguh dalam waktu yang singkat, dan ia tak pernah sadar bahwa hidup hanyalah fatamorgana seperti air yang menjadi kebutuhan manusia.
Akan tetapi, paragraf delapan, sembilan, sepuluh kisah itu berbalik arah, seorang penyair itu mati tanpa menggapai angan-angan menjadi seorang penyair. Sungguh sangat tragis kisah ini, ia hanya tertipu dunia, yang ada hanyalah hayalan belaka dan hanya digerakkan oleh obsesinya untuk menjadi orang hebat serta keinginan yang menderu-deru, padahal ia pun sangat mengagungkan cita-cita itu tanpa lelah. Sayangnya, cita-cita itu hanya digantung dalam kematian yang tak dinyana.
Pesan penulis dalam kisah ini, yaitu gantunglah cita-citamu setinggi langit, apalagi cita-cita menjadi seoarng penyair, karena penyair adalah idolanya semua orang. Kenapa demikian?karena makna alam semesta ini sangat indah apabila dikontraskan dengan keadaan hidup seseorang. Seorang penyair mampu menggubah dunia dengan senyuman tanpa tantangan meski rintangan selalu menghadang. Begitulah kataku…
Tulisan ini terinspirasi dari salah satu dosenku yang aku idolakan, karena ia sering menyebut-nyebut namaku ketika dalam kelas, Jadi familiar dikit namaku. Dan juga dari seseorang yang ingin mempelajari keindahan ilmu padaku, hingga obsesi menjadi seorang ilmuan ia tekuni dengan berbagai macam cara, aku sangat salut padanya. Dan aku ingin meniru obsesinya itu, dia ingin belajar padaku tentang keindahan ilmu tapi aku juga ingin belajar padanya karena ilmuku masih belum sepadan dengan kemampuan yang kupunya.
Paragraf satu, dua dan tiga termasuk kalimat kabari dan menggunakan majaz isti’arah karena dalam paragraf itu mengisahkan tentang seoarang penyair yang menggebu-gebu dengan angan-angannya untuk menjadi seorang penyair yang handal, hingga ia akan menikahi seoarng perawan, akan tetapi perawan yang ia maksud bukan manusia melainkan banatul khayal yaitu dunia imajinasi yang disebut dengan puisi. Bukan pula seorang wanita yang cantik, tapi puisi yang bisa mengantarkan jiwanya dalam keindahan yang menyentuh kehidupannya. Kemudian punulis mempunyai asumsi terhadap pemaknaan syair di atas, bahwa cinta bisa menggubah duri menjadi mawar, seluruh manusia membutuh cinta, karena ia ada tanpa di undang, indah saat mengenang layaknya orang gila yang mulai gandrung akan kecintaan terhadap yang discintai.
Kemudian cerita diatas diperkuat dengan tasqisy (personifikasinya). Pada paragraf empat, lima, enam, tujuh menyatakatan seorang penyair seperti anak-anak yang mulai asyik dengan mainannya layaknya baru melihat dunia, hingga ia mengira bahwa bintang mudah digapai seperti cita-cita yang ukir sejak masa kanak-kanak dan berusaha menggapainya dengan sungguh-sungguh dalam waktu yang singkat, dan ia tak pernah sadar bahwa hidup hanyalah fatamorgana seperti air yang menjadi kebutuhan manusia.
Akan tetapi, paragraf delapan, sembilan, sepuluh kisah itu berbalik arah, seorang penyair itu mati tanpa menggapai angan-angan menjadi seorang penyair. Sungguh sangat tragis kisah ini, ia hanya tertipu dunia, yang ada hanyalah hayalan belaka dan hanya digerakkan oleh obsesinya untuk menjadi orang hebat serta keinginan yang menderu-deru, padahal ia pun sangat mengagungkan cita-cita itu tanpa lelah. Sayangnya, cita-cita itu hanya digantung dalam kematian yang tak dinyana.
Pesan penulis dalam kisah ini, yaitu gantunglah cita-citamu setinggi langit, apalagi cita-cita menjadi seoarng penyair, karena penyair adalah idolanya semua orang. Kenapa demikian?karena makna alam semesta ini sangat indah apabila dikontraskan dengan keadaan hidup seseorang. Seorang penyair mampu menggubah dunia dengan senyuman tanpa tantangan meski rintangan selalu menghadang. Begitulah kataku…
Tulisan ini terinspirasi dari salah satu dosenku yang aku idolakan, karena ia sering menyebut-nyebut namaku ketika dalam kelas, Jadi familiar dikit namaku. Dan juga dari seseorang yang ingin mempelajari keindahan ilmu padaku, hingga obsesi menjadi seorang ilmuan ia tekuni dengan berbagai macam cara, aku sangat salut padanya. Dan aku ingin meniru obsesinya itu, dia ingin belajar padaku tentang keindahan ilmu tapi aku juga ingin belajar padanya karena ilmuku masih belum sepadan dengan kemampuan yang kupunya.


0 komentar:
Posting Komentar