Oleh: Muna el Laily
Teriaklah pada pasir hingga rasa penatmu terusir. Teriaklah pada asmara hingga ia hinggap dengan sepucuk bunga melati yang berparas sang bidadari. Para malaikat pun datang dengan membawa sejuta bunga untuk dipersembahkan pada seorang bidadari yang berparaskan bunga-bunga. Akan tetapi, bidadari itu mulai bertanya-tanya akan kisah kumbang-kumbang yang telah menyuntingnya sebagai akar kehidupannya, akankah ia terbang dengan sayap-sayapnya untuk menemui sang baginda orang tua yang cukup berperan dalam mencari keindahan ilmunya? Ataukah ia akan menerima suntingan yang ditawarkan para malaikat yang membawa sejuta keikhlasan untuk mendampinginya?
Bidadari itu belum pernah merasakan nikmatnya cinta, karena ia pernah kandas ditelan harapan pada seseorang yang cukup membawanya terbang bersama angan-angan. Kini, Tuhan telah berpihak dengan membawakan malaikat yang tulus dan ingin mempersuntingnya dengan lapang dada, sungguh terharu bidadari yang berparas manis itu. Malaikat itu membawa segudang ilmu dan selembar kertas berharga yang kemudian berupa jambu-jambu asmara. Katanya ia ingin belajar tentang keindahan ilmu pada bidadari itu.
Bidadari itu cukup lincah membaca keadaan. Ia juga cerdas membincangkan tentang ilmu dan fenomena politik yang telah dilakukan para organisator licik dengan segerombolan politikus yang menggelapkan masa depan rakyat yang doyan kursi, doyan nyawa, doyan emas, dan demokrasi dijadikan bola mainan. Kemudian, cerita demokrasi di negara ini yang tak surut-surutnya dengan kebohongan serta perbincangan seorang budayawan yang dermawan.
Begitulah cerita seorang bidadari dengan malaikat tiap kali ia ngobrol, keduanya asyik bertukar pikiran dengan membincangkan tentang keberadaan manusia serta sulukiyahnya. Disitulah letak keindahan bidadari dan malaikat dalam menjalin hubungan karena mereka tak mau jika cintanya hanya berlandaskan nafsu birahi. Dialah malaikat yang ditunggu sejak masa dahulu meski ia belum melihat dan tak pernah bertemu hanya dalam bayangan semu. Keduanya telah mabuk dengan secangkir air cinta dan seindah bunga-bunga yang disiramnya dengan segenggam ketulusan hingga bunga-bunga itu tumbuh menjadi mekar dan mewangi. Sungguh indah Tuhan memberikan fitrah kepada ciptaannya.
Selama bidadari itu mengenal para malaikat-malaikat yang ingin mempersuntingnya, hanya dia yang menyentuh suasana hatinya karena kelembutan jiwanya dan kejujuran yang melekat padanya membuat bidadari itu terpana, meski dari segi pengalaman dan kepintaran ilmunya lebih canggih malaikat yang baru mengenal asmara itu. Akhirnya, ia serahkan apa yang dimilikinya ke pangkuan sang malaikat. Kini, malaikat itu hilang tak ada kabarnya, hingga membuat hati bidadari ragu akan kisah cintanya, berselimut piramid susunan rumah yang dihiasi dengan ilmunya Tuhan. Entah rindu yang menggebu berjelaga di atas kanvas pekat dan terlihat remang-remang seperti awan mendung. Keduanya pernah mengubur sejuta cita-cita untuk masa depan mereka.
Para malaikat dan bidadari yang ada di atas kayangan mulai turun menyaksikan kisah yang berpadu. Ia dituduh telah menjadi penghianat istana. Bidadari itu kemudian mengalami krisis kepercayaan terhadapnya karena malaikat itu telah mempersunting saudara bidadari yang lain dengan dalih bahwa hubungan ini hanya terlambat sejengkal. Begitukah cara yang digunakan manusia yang berparas malaikat? Tuhan memang benar, bahwa manusia diciptakan lebih sempurna daripada malaikat, gunung-gunung sudah tidak lagi indah, dan piramid-piramid yang mereka susun telah pudar menjadi suatu kebohongan, taman-taman istana yang mereka ciptakan untuk singgasananya kelam ditelan ombak, karena sang malaikat yang baik hati itu sudah tak ada kabar dalam tiga hari, bidadari itu menunggu pertemuan di singgasana yang indah dan tatap memegang benda mati tempat mereka mengenalnya dulu.
Apa engkau pernah melihat kumbang pada bunga-bunga yang indah penuh dengan duri dan membuat semua orang teracuni? Bidadari itu berdesis dalam hatinya dan kebingungan mencari teka-teki kehidupannya. Ia merasa telah dipermainkan perasaannya. Entah kenapa setelah ia memberi kepercayaan kemudian diganti dengan penghianatan, sungguh tidak adil tuhan jika harus demikian. Tapi itulah kenyataan yang dipegang sang bidadari yang malang. Bidadari itu teringat akan kata-kata bualan palsu yang pernah ia janjikan bersamanya, ketika sang pagi mulai membangunkannya tiap kali fajar di ufuk sana ditemani dengan embun yang membasahi bibir keduanya.
Pagi yang indah tak secerah kisah senja yang diceritakan dalam kitab romantisnya alquran yang mengisahkan Zulaikha dengn Yusuf. Semuanya berubah petang, layaknya sang malaikat isrofil meniupkan terompet ketika kiamat sudah mulai dekat. Petir-petir sudah menggebu-gebu ditelinga, serigala mengaung tertawa mengejek akan kisah indahnya, keadaan pagi itu menjadi firus-firus rindu yang membuatnya candu. Bidadari itu hanya menemukan senja, yang pernah ia tunjukkan padanya. Dulu, seorang kerabat bidadari pernah menyarankan janganlah bermain dengan api karena api hanya akan membuat sesuatu itu terbakar. Memang tidak akan bisa dipungkiri setiap yang diciptakan Tuhan akan mengalami kehancuran, dan semua isi dunia akan hancur dan binasa, cinta pun juga akan ikut sirna. Semua orang tidak akan pernah tau kalau di atas duri terdapat mahkota, untuk siapa mahkota itu tercipata? Hanya Tuhan yang mengetahuinya.
Ketika bidadari itu melihat burung-burung camar tuk menyampaikan pesannya kepada sang malaikat, bidadari itu mulai menyunggingkan senyumnya karena ia berharap akan bertemu dengan sang kekasihnya. Detik itu sang bidadari menanti burung-burung camar untuk mendapatkan berita tentang kekasihnya. Malam petang, tak ada bintang, bulan pun enggan bermunculan. Entah ada apa dengan malam itu, semuanya berubah jadi mimpi kelam. Bidadari itu merindukan seoarang malaikat yang pintar menyihir hatinya, ia merindukan kasih sayang dan kisah-kisah tentang para penyair yang ia sukai, seperti Jalaluddin Rumi, sang tokoh pecinta Kahlil Gibran, yang pernah di ceritakan bahwa ia menginginkan kisah cintanya seindah kekasih Kahlil yang tak pernah mati.
Sepintas, bidadari itu teringat tentang kisah seorang penyair yang pernah ia dengar, yaitu penyair yang sangat berobsesi untuk menggapai cita-citanya menjadi seorang penyair yang handal dan terkenal yang akhirnya tak kesampaian. Akankah kisah seorang bidadari yang berobsesi mencari ilmu tuhan bersama sang malaikat yang telah dirajutnya dulu akan tercapai? Akankah bidadari itu bertemu dengan sang malaikat yang dipuja-pujanya hingga sampai detik ini masih belum ada kabar? Bidadari itu mulai mencemaskan sang malaikat. Akankah ia berkisah layaknya seoarang penyair yang terluka dan meninggal dunia dengan cita-cita yang belum dicapainya atau ia hanya pergi sebentar dan akan kembali lagi?
Setelah berbulan-bulan lamanya tak ada kabar, bidadari itu mendapat berita bahwa sang malaikat yang di puja-pujanya telah tiada, dan ia hanya mengubur kerinduan yang berupa luka, sangat terpukul dengan ketiadaanya. Tidak akan ada lagi orang yang merayu dan membuatnya tersenyum kecuali kisah-kisah manis dan indahnya bercinta yang belum satu bulan ia jalani. Hati bidadari itu merasa terbakar hingga tersayat-sayat dengan sebilah pisau yang tajam, dan tak sanggup kehilangan. Hari yang cerah menjadi kelam, kenangan itu tak jua hilang. Ia hanya ditemani sepi dan lagu-lagu Mazika Arabia yang ia suka untuk meraih cita-cita di luar negeri bersama kisah yang pernah ia ceritakan pada malaikat yang telah meninggalkannya. Akankah cita-cita yang setinggi langit itu akan digapainya tanpa seorang malaikat di sisinya? “Ya tuhan, pertemukanlah hamba dengan malaikat itu, hingga rasa sakit ini kau cabut kembali di istana surga bersamanya”. Begitulah sang bidadari itu bergumam dalam doanya, sambil meneteskan air mata.
15 desember 2009, yogyakarta


0 komentar:
Posting Komentar