KEHIDUPAN

ketika aku duduk menjelang mendung
hari-hariku kulalui berasama kawan sambil bercengkrama
sejenak aku berhenti menikmati kekesalan dan kelelahan
melukis alam lalu mendengung
menjaganya!wahai penjaga pintu
baik dan buruknya alam semesta
tak peduli ketakjuban
mengawasi pemandangan ditepi pantai

betapa bodohnya hal-hal yang tak kuketahui
dari misteri malam dan teka-teki siang
pentas berlangsung dengan baik
cerita panjang dibalik tirai layar

aku lelah dengan dunia rahasia
pada diamnya kerikil
yang mendendangkan indahnya cahaya
ada petunjuk kesal disana
memejamkan mata karena takut
mengharap karunia akan jatuh pada malam itu
dengan histeris ia berteriak seakan-akan membuatku terjaga

engkau lemah dalam kebencian
tak tersisa pada masa kecuali perih
pada setiap yang aku pandang, ada sinar
mengejek api dan menggulung debu
setiap yang aku pandang, ada kekuatan
menggema pada angin kemudian berderu
mencabik-cabik keputus asaan
menatap kasat mata dengan abadinya alam semesta

lihatlah aneka keindahan dunia
memancar dari langit dan bumi
ingatkah engkau pada gugusan-gugusan?
tanpa peduli peringatan kehancuran
dalam rentang waktu antara anak kecil dan remaja
yang memperindahnya dengan seksama

sementara pandangan mengarah pada penumpang
dan ucapannya menakjubkan kudengar
ketika aku meloncat kesampingnya
menjulurkan tangan tanpa peduli perlindungan
berjalan bergandengan
bersama angin membelai tangan sang kekasih

lihatlah pada kendaraan layaknya pejalan
melaju cepat tak peduli pada desakan
seperti roda yang diciptakan manusia
adakah suatu kematian yang menggetarkan

lihatlah pada kekuatan tubuh
pedang ulul azmi untuk berjuang
berjalan menjelang malam
seorang laki-laki yang terbiasa sejak tadi pagi

aku menjawab, wahai dunia siapa gerangan?
aku kesal dengan penipuan
mencabik-cabik kehidupanku dua tahun lalu
aku merobek-robek topengmu
keindahan itu menari sangat memesona
dan kecelakaan bermuara pada kecerahan
masa yang sia-aia karena perbuatan jahat
celupan menutupi dosa-dosa yang bertahun-tahun

kendaraan ini sombong layaknya menyambar kilat
dia menyala lalu lenyap bagian sepertengah harinya
istirahat sambil mengumpulkan tenaga
dinginnya malam mulai menyentuh tubuh dengan sengit
bagaimana aku tak menangis dengan kefakiran
yang berangan-angan tinggi pada sebungkus roti
betapa agungnya jihad tanda diatas dahi
ya tuhan, apa yang tersisa pada hambaku
apakah ini semua demi kehidupan!
demi bekal makanan mengisi relung hati ratapan
berapa bintang yang menegejek kita diatas
dan berapa anak-anak yang allah lihat!

wahai tuhan yang maha pengampun
kami anak kecil merayap didunia dengan tak sempurna
hidup di bumi ini sejak zaman azali
pelajaran kami hanya bertumpu diatas kuburan