Sepotong Duri dalam Parfum
Cerpen: Muna el Laily
Cinta muncul dari persahabatan dan keakraban seperti pepatah yang sering kita dengarkan, “Tak kenal maka tak sayang”.
Ucapan Jalaluddin Rumi sering kita dengarkan, “Sejak kudengar tentang dunia cinta, kumanfaatkan hidupku, hatiku dan mataku dijalan ini. Aku pernah berpikir bahwa cinta dan yang dicintai itu berbeda. Kini aku tahu bahwa keduanya sama”.
Syair rumi telah membawaku ke dunia baru yang segala-galanya telah melebur kedalam cahaya tanpa noda. Daun-daun yang terbakar bersamamu lebih terang daripada bintang beku. Jadikan aku nafasmu, sahayamu dan intisarimu. Ucapan ini lebih layak aku kasih kepada seseorang yang menunggu cintaku di sana dan menorehkan tinta akan karya-karyanya. Tapi, ketika ucapan kangen sering kudendangkan pada seseorang yang telah menjadikanku kawan, aku tidak pernah membayangkan ucapan itu akan berpengaruh besar terhadap persahabatan yang sudah kita rangkai. Perjalanan cinta sungguh tidak adil lagi bagiku, pengkhianatan, kekerasan mulai membunuh jantungku, hingga kumaknai cinta tak suci lagi. Ketika kucium daun kasturi, cinta itu sudah tidak sedap lagi. Aku tidak sanggup mengalirkan air mata persahabatan menjadi budak cinta. Karena di mana dan kapan saja, di dahan rumpun yang dikasihi, bul-bul cinta berkicau tiada henti. Hal ini tidak bisa pungkiri bahwa cinta kadang menyakiti.
Setiap aku menghela nafas atas problem yang kuhadapi, engkaupun menghampiriku lewat rintihan air mata yang mengenangi pipiku, seolah-olah akan menjawab atas kesunyian diriku. Sungguhkah aku hanya untukmu saja? Air matalah yang akan menjawab semuanya. Aku termasuk orang yang lalai dalam segala hal tanpa berpikir panjang. Apalagi dalam persoalan cinta. Kini, penyeselan datang setelah kata-kata sayang kulontarkan. Sungguh aku tak mengerti akan diriku yang tanpa lepas mengucapkan hal itu. Akulah pemilik air mata. Karena orang-orang membuat pernyataan yang berbeda-beda tentangku, apalagi tentang gosip yang kurang enak kudengar, sungguh hatiku gersang oleh belaian kasih sayang.
Kini saatnya aku merindukan seseorang yang tadi sudah kubilang. Seseorang yang mengerti akan psikologi cinta, yang selama ini aku buta dengannya. Engkau telah mengenalku, dan tahu akan sikapku. Kemudian kusebut namamu dengan manusia yang membimbingku menemukan dunia baru. Akupun tersentak oleh tatapan matanya yang seolah-olah akan merajai akan istana-istana. Aku meronta kesakitan akibat tusukan bahasanya. Namun, aku masih bermain-main dengannya, karena kukira kamu sama dengan cowok-cowok lainnya, tapi selama ini aku salah menilainya. Akulah orang yang memperpanjang masalah seperti apa yang kau bilang. Dengan begitu, aku bisa menangkap sikapmu lewat rentetan bahasa yang sering menerkammu lewat masalah yang kubuat-buat sampai bermasa-masa.
Kemelut sudah mulai berlalu. Kini, tiba orang-orang mengadu akan kisah cintanya padaku yang seolah-olah akan menggerakkan hati, menghalau perasaanku yang risau, sejenak orang-orang itu semakin melucuti angan-anganku, seolah-olah cerita ini hanya fiktif belaka yang telah kususun apik mulai dulu. Ingatkah engkau pada permintaan terakhirmu tentang kesungguhanmu meminta cintaku. Hingga saat itu aku bilang, “Sayang, aku tidak akan pernah meninggalkanmu walau tangan-tangan Tuhan mulai membunuh akan perasaanku padamu, raja pun tidak akan pernah bisa memisahkan cinta kita”. Tapi sayang, engkau malah membalikkan fakta. Sungguh kumerasa kerdil oleh perbuatanmu yang bisa dikatakan tidak adil.
“Assalam...” Ucapan sosok lelaki itu sangat santun, tapi cukup membuat jantungku tertusuk oleh kata-katanya. Lelaki itu memulai pembicaraannya dengan mengatakan bahwa dirinya sudah berkali-kali mengungkapkan perasaannya yang awalnya terbuka dan sekarang tertutup untukku. Sayang, katanya, sampai detik ini diriku belum bisa menjadi pendengar yang baik. Kata-kata sebagai jawaban ini, lanjutnya, masih terlalu halus kau dengar, dibandingkan kekecewaanku berteman dengan orang yang menyimpan duri dalam harumnya kukusan roti bakar. Tidak ada salahnya jatuh cinta, tapi tidak pernah ada keharusan cinta diungkapkan apalagi dipaksakan. Dan aku yakin kamu punya seribu jurus untuk menepis hal ini. Sebab kamu tidak bisa menerima hal yang tidak baik didengar jadi kenyataan. Sekali lagi, belajarlah jadi pendengar yang baik. Agar suaramu juga didengar orang lain.
Sebenarnya aku paham apa yang di inginkan lelaki itu, yaitu kesungguhanku untuk mrncintainya, karena ia tidak akan pernah bermain-main dengan cintanya untuk mempermainkan para virginia. Aku merasa bahagia dengan kejujurannya, bahwa ia tidak pernah jatuh cinta apalagi membahasnya. Seorang yang menyimpan seribu kenangan masih punya nyawa untuk angkat bicara, tentu dengan bahasa yang lebih halus. Terimakasih atas jawaban dan kejujurannya wahai sang lelaki, meski terasa perih kudengar, namun itulah kenyataan yang mesti aku terima. Aku sadar cinta tak selamanya harus memiliki, tapi tidak adakah pintu maaf bagi seorang hamba yang hina, yang berpetualang untuk menemukan cinta hakikinya. Tapi tak apalah, karena engkau masih menganggapku sebagai sahabat. Aku akan berusaha menjadi pendengar setiamu dan apa yang telah engkau sabdakan padaku. Habis kikis segala cintaku, hilang terbang pulang kembali aku padamu seperti dahulu, yakni, waktu aku masih baru kenal kamu. Nanar, aku gila, kesasar sayang padamu jua. Kau pelik, menarik ingin, serupa dara di balik tirai. Kasihmu sunyi menunggu seorang diri.
Lalu, waktu pun berlalu. Giliranku tuk menyadari, bahwa matahari bukan kawanku lagi. Terima kasih banyak cahayaku. Engkau pernah memberiku pelangi dalam segala kehidupanku. Sejuta kenangan berupa aksara yang kemudian membutuhkan sejuta interpretasi untuk bisa kumengerti.
Perjalananan terus kulalui, sambil memandangi tingginya gunung merapi, gunung yang begitu tinggi dibandingkan dengan masalahku yang berapi-api. pada akhirnya semua masalah telah berakhir dengan bekas kemandirian dan warna kebahagiaan yang sebelumnya tidak pernah kutemukan. Game is Over.
Dunia seperti mainan yang akan menuai beberapa alasan untuk kita temukan, dunia yang penuh dengan rahasia-rahasia Tuhan. Tuhan yang membimbingku menemukan pelangi itu. Pelangi yang melewati sepintas kenalan dan kutelan dengan persahabatan yang kemudian muncul keakraban. Di sinilah yang menimbulkan kisah para pelangi yang telah dikisahkan oleh sorang Fahri dan Aisyah dalam ayat-ayat cinta.
“Sejarah telah kulalui”, Ucapan ini tiba-tiba kulontarkan saat banyak orang tanpa kusadari, salah seorang kawan tiba-tiba menyerobot dan berkata, “ Maksudnya kamu ingin merangkai kisah seperti ayat-ayat cinta ya?”
“Ah enggak kok”. Aku berusaha mengilak meski kenyataannya demikian. Tapi tidak usah diperpanjang. Ntar malah ngelantur. Karena menurutku cinta tak perlu di ungkapkan, tapi cuma bisa dirasakan, perasaan tak perlu di umbarkan ke orang lain, cukup aku saja yang mengerti. Dan aku berhak untuk menyelimutinya. Pertanyaan dari kawan-kawanku tambah memanjang, “Tukan kamu jatuh cinta, buktinya kata-katamu tambah puitis, pake bahasa menyelimuti hati lagi”. Aku berusaha menjawab dan menafsirkan kembali kata-kataku. Maksudku, yang tahu tentang perasaanku hanya aku dan Tuhanku, kerena selama ini dialah yang menyelimuti hatiku. “Jadi kamu gak jadian donk”. Salah satu temanku menyanggah kembali kata-kataku. Kuhanya tersenyum dan terus tersenyum, tanpa merespon apa-apa?
Jogjakarta 2008


0 komentar:
Posting Komentar